UCAP SYUKUR DENGAN RASULAN
Nama : Dwi Ambarwati
Kelas : PBS 1C
Nim : 175231114
Pendahuluan
Perkembangan islam di pulau Jawa sangat dipengaruhi oleh campur tangan Wali Songo, yaitu dembilan orang penyebar agama islam di Jawa. Sebelum Wali Songo datang mengajarkan agama islam di Jawa, agama Hindu-Budha telah terlebih dahulu singgah dan mengajarkan tradisi agamanya di Indonesia terutama di pulau Jawa. Tradisi-tradisi agama Hindu-Budha ini kemudian diterima oleh masyarakat Jawa dan menjadi tradisi Jawa hingga saat ini masih dapat dirasakan keberadaannya. Ajaran tradisi Hindu-Budha diajarkan kepada masyarakat pulau Jawa dengan berbagai cara, salah satunya yang paling ampuh adalah alkuturasi budaya. Ajaran Hindu-Budha disampaikan dengan mengakulturasi budaya jawa asli dengan tradisi Hindu-Budha. Begitu pula ajaran islam disampaikan dan diajarkan pada masyarakat Jawa. Para Wali Songo mengajarkan agama islam dengan tetap mempertahankan tradisi dahulu dengan ketentuan selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran islam. Banyak sekali hasil akluturasi budaya Hindu-Budha dengan agama islam yang hingga saat ini masih dilestarikan, terutama oleh masyarakat pedesaan. Seperti sholawatan, yasinan atau peringatan hari kematian, megengan atau penyambuatan bulan ramadhan, selikuran atau penyambutan malan lailatul qodhar, bersih dusun, dan masih banyak lagi lainnya.
Dari berbagai tradisi diatas, satu yang akan dijelaskan dalan narasi ini, tradisi bersih dusun atau sedekah bumi yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan Rasulan. Pemiliham tradisi ini sebagai bahan narasi inj karena tujuan tradisi ini adalah sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas apa yang telah mereka dapatkan dari hasil pengolahan bumi. Tradisi ini walaupun sudah banyak yang melupakannya, tetapi bagi masyarakat sekitar desa Watuagung masih dipertahankan karena jika ditinggalkan mereka percaya akan terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Penyusunan narasi ini menggunakan metode wawancara dalam mengorek informasi dari orang yang bersangkutan. Karena acara tradisi ini telah berlangsung sebelum observasi, jadi untuk metode observasi lapangannya tidak dapat dilakukan. Wawancaranya dilakukan di dusun Klampeyan, desa Watuagung, kecamatan Baturetno, kabupaten Wonogiri. Wawancara ditujukan kepada salah satu keturunan pemangku adat di desa Klampeyan, yaitu mbah Saiman. Beliau dipercaya sebagai salah satu orang yang boleh memimpin setiap tradisi yang diadakan di dusun Klampeyan.
Kenapa Rasulan?
Itulah cara masyarakat dusun Klampeyan bersyukur. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Sang Maha Pencipta kepada kita. Cara untuk bersyukur pun ada berbagai macam, ada yang dilakukan dengan bersedekah, sujud syukur, traktir temen, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula dengan masyarakat dusun Klampeyan, mereka menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas panen hasil bumi mereka dengan Rasulan. Semua itu tidaklah terjadi begitu saja. Mereja melakukannya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para pendahulu mereka. Itu tidak lain merupakan ajaran para Wali Songo yang mengajarkan agama islam di pulau Jawa. Meskipun dalan pelaksanaanya terlihat semacam ada unsur Hindu-Budha, tetapi tujuannya tetaplah untuk mengucap syukur atas hasil bumi yang didapat. Ya memang benar bahwa tradisi tersebut nampak seperti tradisi Hindu-Budha, hal tersebut dapat dilihat dari sejarahnya dimana sebelum islam masuk ajaran Hindu-Budha telah terlebih ada dan menjadi kebiasaan rakyat Jawa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Para Wali dalam pengajaran agama islam tidak bisa langsung menerangkan islam secara murni. Mereka nerdakwah dengan pendekatan terlebih dahulu dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat Jawa. Para Wali memulainya dengan memasukkan nilai-nilai islam dalam setiap tradisi masyarakat Jawa. Begitu pula dengan tradisi Rosulan yang awalnya merupakan tradisi Hindu-Budha dan kemudian dimasukki ajaran-ajaran agama islam. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat Jawa.
Zaman sekarang sudah banyak tradisi mulai dilupakan oleh masyarakat. Namun untuk dusun Klampeyan dan sekitarnya masih tetap mempertahankan tradisi nenek moyang yang telah ada sejak dahulu. Mereka percaya bila mereka meninggalkan tradisi tersebut hal buruk akan menimpa dusun Klampeyan. Itulah masyarakat pedesaan yang masih kental dengan hal-hal yang tak lazim. Tapi tanpa dipungkiri, hal tersebut benar terjadi. Ada sebuah kasus dimana sebuah desa yang dulu mengamalkan tradisi ini dan kemudian meninggalkan tradisi tersebut. Kemudian desa tersebut mengalami keganjilan dan akan kembali melakukan tradisi tersebut demi kenyamanan desa bersama. Untuk masyarakat dusun Klampeyan menyadari hal tersebut berkesan agak musyrik, tapi untuk meninggalkan tradisi tersebut mereka balum mempunyai keberanian. Namun mereka mengubah niat Rasulan untuk saling berbagi satu sama lain sehingga tidak lagi terjerumus musyik lagi.
Jumat kliwon atau selasa kliwon
Untuk hari pelaksanaannya, masyarakat Klampeyan biasanya melaksanakan Rasulan kalo tidak hari juman kliwon ya hari selasa kliwon. Kenapa hari tersebut, tidak hari lainnya? Untuk itu mereka hanya meneruskan apa yang diwariska oleh pendahulu mereka. Setiap desa biasanya hari pelaksanaanya berbeda-beda. Ada yang hari senin wage, jumat pon dan hari-hari lainnya. Sama halnya dengan dusun Klampeyan, mereka hanya meneruskan apa yang diajarkan oleh pendahulu mereka.
Tradisi Rasulan dilaksanakan setiap setahun sekali. Lebih tepatnya adalah ketika masyarakat selesai panen padi. Tak jarang Rasulan sering disebut juga dengan syukuran panen padi. Tiap tahun pasti diadakan tradisi Rasulan, dimana harinya telah ditetapkan yaitu hari jumat kliwon atau selasa kliwon. Namun untuk bulannya tidak ditentukan. Tapi yang pasti sejak dulu tradisi dilakukan setelah selesai panen padi. Walaupun untuk zaman sekarang tidak pasti setelah panen padi melaksanakan Rasulan. Tradisi Rasulan saat ini biasanya diadakan sesuai dengan hasil musyawarah bersama mengingat bahwa sekarang pekerjaan masyarakat tidak lagi banyak yang menjadi petani.
Lokasi
Tradisi Rasulan seharusnya dilaksanakan ditempat kepala dusun. Tapi karena di dusun Klampeyan rumah kepala dusun tidak memungkinkan untuk digelar acara Rasulan, tradisi ini pun diselenggarakan ditempat yang memungkinkan sesuai kesepakatan bersama. Biasanya diadakan dirumah salah satu orang yang dihormati. Tak Cuma itu, lokasinya harus dapat diangkau oleh seluruh penduduk dusun Klampeyan. Jadi lokasinya haruslah ditengah-tengah dusun dan memiliki rumah luas yang dapat menampung seluruh penduduk.
Pelaksanaan
Kegiatan dimulai dengan seluruh masyarakat datang dengan membawa supitan sejumlah tujuh maupun lima. Supitan adalah nasi yang dibentuk bulat sebesar kepalan orang dewasa dan dibungkus daun pisang. Untuk jumlahnya tidak ditentukan. Jumlah supitan yang dibawa adalah jumlah hari yang dianut penduduk itu sendiri. Ada yang menganut lima hari, yaitu pon, wage, kliwon, legi, dan pahing. Ada pula yang menganut tujuhari, yaitu senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, dddan ahad. Jumlah tiap bungkus supitan pun juga beragam. Ada yang satu bungkus hanya diisi satu, ada pula yang diisi dua nasi. Kemudian untuk lauknya adalah ala kadarnya. Ada yang lauk ayam, telur, tahu, maupun tempe. Itu tidaklah dipersoalkan. Yang penting adalah mereka semua kumpul di satu tempat dan bersama-sama memanjatkan puji syukur atas segala yang telah mereka dapatkan kepada Sang Pencipta.
Setelah mereka berkumpul ditempat yang telah disepakati, kemudian bawaan mereka berupa nasi supitan tadi dikumpulkan jadi satu ditengah-tengah lokasi. Lalu mereka bersama-sama memanjatkan doa yang dipimpin oleh salah satu pemuka agama di dusun Klampeyan. Acara yang dilakukan pertama kali sebalum pembacaan doa yaitu sambutan dari kepala dusun dan penyampaian maksud dan tujuan dikumpulkannya seluruh warga dalam acara tersebut. Walaupun sebenarnya seluruh warga sudah tahu maksud dan tujuannya, tetapi hal tersebut sebagai formalitas bagi kepala dusun untuk menyampaikan sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan pambacaan ikrar tradisi Rasulan yang dibacakan oleh salah satu tetua yang dihormatui. Orang tersebut biasanya adalah mbah Saiman, orang yang diwawancarai sebagai narasumber narasi ini. Barulah doa dipanjatkan oleh orang yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih banyak dibanding warga biasanya. Selepas doa dipanjatkan, dua atau beberapa orang maju kedepan dan mengambil dua bungkus nasi supitan dari setiap bawaan yang dibawa penduduk. Nasi supitan yang diambil tadi dikumpulkan jad satu tempat dimana sebagian dibagikan lagi ke tempat bawaan penduduk dan sebagian lainnya dimakan bersama dilokasi. Saling tukar nasi supitan tersebut memiliki makna mengesankan. Hal tersebut dilakukan agar satu sama lain merasakan hasil bumi tetangganya. Kebersamaan dan kesamaan satu sama lain juga merupakan filosofi penukaran nasi supitan tersebut. Setelah semuanya selesai, penduduk pun diperkenankan kembali kerumah masing-masing dengan membawa nasi supitan yang telah saling ditukar tadi.
Pada saat pelaksanaan, terdapat berbedaan dengan ajaran Hindu-Budha yang biasa dijumpai di pulau Jawa. Berbedaannya yaitu, didalam tradisi Hindu-Budha selalu ada sesaji maupun syarat-syarat dalam pelaksanaan, namun dalam tradisi Rasulan tidak terdapat syarat-syarat sesaji yang harus dipenuhi. Syaratnya cukuplah nasi supitan yang dibawa penduduk dan semua penduduk kumpul menjadi satu dalam satu tempat. Walaupun kegiatannya seperti ajaran Hindu-Budha, tapi hal tersebut sanagtlah berbeda, karena sudah di modifikasi sedemikian rupa oleh para leluhur yaitu wali Songo agar hal tersebut tidaklah sama dengan ajaran Hindu-Budha. Tradisi yang dijalankan dari dulu hingga sekarang pun tidak terdapat perubahan banyak walaupun sudah melewati banyak generasi. Itulah hebatnya masyarakat desa dalam menjaga tradisi budaya mereka.
Hiburan
Untuk tradisinya memang diadakan setiap tahun, tetapi untuk menambah keseruan setiap lima tahun sekali atau tiga tahun sekali akan diadakan pagelaran wayang. Tujuan digelarnya pagelaran wayang ini semata-mata hanyalah untuk kesenangan seluruh warga dusun saja. Pagelaran wayang ini tidaklah begitu memiliki makna penting dalam tradisi Rasulan. Bukannya kenapa, tetapi memang yang paling diutamakan dalam tadisi Rasulan ini adalah berkumpulnya seluruh warga dusun dalam satu tempat dan saling bersyukur akan seluruh nikmat yang telah mereka peroleh. Tapi untuk pagelaran wayang ini sangatlah ditunggu-tungu oleh seluruh warga dusun Klampeyan. Karena pada saat digelarnya pagelaran wayang, akan ada banyak pedagang yang menjual pernak-pernik khas wayang. Ada pula makanan yang biasanya hanya dapat ditemukan pada saat ada pagelaran wayang saja.
Tempat pagelaran wayang pun juga ditentukan melalui musyawarah bersama. Karena untuk dusun Klampeyan belum memiliki balai pertemnuan seperti desa-desa lain pada umumnya. Pagelaran wayang sendiri dilaksanakan setelah tradisi Rasulan selesai dilaksanakan. Dimana Rasulan dilaksanakan pada saat bada isya dan pagelaran wayang dilaksanakan pada pukul sembilan malam dan selesai pukul tiga dini hari sebelum subuh.
Untuk cerita yang diangkat dalam pagelaran wayang seharusnya adalah cerita Dewi Sri, atau dewi padi. Hal tersebut disesuaikan dengan tujuan diadakan tradisi Rasulan ini, yaitu syukuran atas panen padi yang diperoleh. Namun karena cerita Dewi Sri kurang menarik, para penduduk desa pun memilih cerita lain yang menurut mereka itu lebih menarik dan asyik dibandinng cerita Dewi Sri. Cerita yang diusung biasanya yaitu cerita Ramayana, Mahabarata, dan lainnya yang didalamnya terdapat adegan goro-goronya. Serta ceritanya terdapat adegan-adegan perangnya. Semua keseruan-keseruan dalam pewayangan tersebut tidaklah ditemukan dalam cerita Dewi Sri sehingga para penduduk memilih menggantinya dengan cerita lain demi memuaskan kesenangan penduduk dusun Klampeyan dan sekitarnya.
Pagelaran wayang juga dimeriahkan oleh orkes dangdut. Musiknya pun musik dagdut Jawa Timuran atau sering disebut dengan musik koplo. Musik koplo akan dinyanyikan ditengah-tengah acara dimana dalam pewayangan disebut dengan sesi limbukan. Sesi yang ditunggu-tunggu dalam pewayangan karena menampilkan cerita-cerita lucu atau guyonan yang membuat para penonton tidak njenuh dengan cerita pewayangan yang terkesan membosankan. Namun terdapat sisi negatifnya ketika diselenggarakan pagelaran wayang. Yaitu banyaknya para pemuda yang datang dengan membawa minuman keras dan membuat kegaduhan ditengah-tengah pertunjukan. Walaupun sudah ada yang mengingatkan agar tidak membuat kegaduhan, mereka tetap saja tidak mematuhi teguran tersebut, bahkan polisi yang berjaga pun angkat tangan dalam mengatasinya.
Penutupan
Dari ulasan-ulasan diatas, dapat disimpulkan bahwa sejarah peradapan islam di Jawa itu benar adanya. Perkembangan islam di Jawa dimulai dengan beberapa tahapan, mulai dari tahapan awal masuknya islam dari berbagai penjuru hingga saat ini, saat islam murni mulai tumbuh walaupun hanya sekelumit orang saja. Cara penyampaian yang berbeda-beda, ada yang dengan perdagangan, perkawinana, maupun dakwah secara langsung. Namun yang paling membekas hingga saat ini adalah dakwah secara langsung yang disampaikan oleh para Wali Songo. Metode yang digunakan amatlah cemerlang yaitu dengan akulturasi budaya terdahulu. Dengan memasukkan nilai-nilai islam kedalam tradisi-tradisi terdahulu yang dianggap tidak dilarang dalam ajaran islam. Sehingga ajaran islam dirasa sebagai ajaran yang tidak memaksa dan tidak ribet dalam pengamalan sehari-hari. Ajarannya tidak perlu lagi dimulai dari nol, hanya sedikit merubah kebiasaan lama masyarakat Jawa.
Budaya-budaya hasil akulturasi budaya lama dengan budaya islam untuk daerah perkotaan memang sudah tidak dapat ditemukan lagi, mengingat perkembangan zaman dan tehnologi yang semakin maju. Serta akal kritis dalam mencari kebenaran sesungguhnya akan ajaran islam murni seperti yang diajarkan nabi Muhammad Saw. Namun untuk daerah-daerah pedesaan, sisa-sisa akulturasi budaya buatan para Wali Songo masih dapat ditemukan walaupun sudah terdapat perubahan karena tidak dituliskan dalam hitam diatas putih. Ajaran yang sekedar mengandalkan ingataan para penerus generasinya. Sehingga terdapat berbedaan-perbedaan daerah satu dengan daerah lainnya walaupun tujuannya sama tergantung oleh para penerus yang menyampaikannya.
Untuk saat ini,banyak sekali yang memperdebatkan akan masalah budaya-budaya terdahulu. Ada yang memperbolehkan dengan dalil tidak dilarang dalam ajaran islam, ada pula yang menganggapnya tidak diperbolehkan karena tidak diajarkan dalam islam. Tetapi asalkan tujuannya untuk melestarikan budaya itu sah-sah saja selama tidak meyakini jika tidak melaksanakannya akan mendatangkan malapetaka, karena itu sama saja dengan musryik. Jadi unruk daerah yang menganggap tradisi harus dijalankan agar terhindar dari malapetaka haruslah diganti niat dan tujuannya menjadi melestarikan budaya nenek moyang. Karena setiapa kejadian datangnya hanyalah dari Allah semata, bukan dari kegiatan yang dilakukan seperti apa yang dikatakan orang-orang desa yang masih percaya akan hal-hal mistis.
Bagi daerah yang masih melestarikan budaya terdahulu haruslah diacungi jempol dan harus diberi dukungan agar budaya tersebut tetap ada serta dapat dirasakan pula oleh generasi selanjutnya. Itu saja yang dapat disampaikan dalam narasi singkat ini, semoga bermanfaat, bila ada kesalahan didalamnya mohon dimaafkan, sekian dan terima kasih.
Lampiran
