Minggu, 06 Mei 2018

Jalan-jalan ke “Tokio Bowl”

Indonesia merupakan bagian dari benua Asia. Banyak keaneragaman yang dapat dijumpai dari berbagai negara. Mulai dari busana, budaya, bahasa, hingga masakan. Bicara mengenai masakan Asia, maka yang akann terlintas dalam pikiran adalah banyaknya bumbu yang digunakan. Terutama bumbu rempah-rempah. Selanjutnya masakan Asia dikenal dengan kekhalalannya. Terutama Asia tenggara. Seperti masakan India yang banyak menggunakan rempah-rampah, masakan Indonesia kekhasan rasa pedasnya, hingga jepang dengan saus teriyakinya.
Sekarang ini tak perlu jauh-jauh kenegara seberang untuk dapat merasakan masakan khas masing-masing negara. Di Indonesia sudah banyak restaurant-restaurant yang menyajikan masakan-masakan khas dari berbagai negara. Mulai masakan khas China, Thailand, Jepang, dan lain-lainnya.
Tokio Bowl adalah salah satu restauran kecil yang ada di The Park Mall Lower Ground Surakarta. Tokio Bowl merupakan sebuah restaurant yang menyajikan berbagai masakan khas negara Jepang. Berada di lantai satu The Park Mall dan bersebelahan dengan restaurant khas masakan China.  Restaurant sudah ada di The Park Mall sejak Desember 2013.Restaurant buka mulai pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam.
Lokasi Tokio Bowl dapat ditempuh selama setengah jam dari IAIN Surakarta. Jalan yang dilalui mulai dari jalan raya slamet Riyadi ke timur. Sampai pasar Jongke lurus melewati jalan Dr. Rajiman hingga perempatan pertama belok kanan menuju Lotte Grosir Solo melewati jalan Bayangkara. Kemudian belok ke kiri lewat jalan Veteran dan belok kiri ke jalan Pangeran Wijil. Kemudian lurus ke jalan Kapten patimura sebelum belok kanan melewati jalan Yos Sudarso. Dari situ lurus terus hingga bertemu The Park Mall di kiri jalan.
Memasuki restaurant Tokio Bowl dari depan sudah tampak ke khasan negara Jepangnya. Dibagian depan terdapat tulisan Tokio Bowl dengan ikon khasnya nasi mangkuk Jepang. Kemudian dibagian Dalam dari restaurannya dihiasi dengan berbagai ornament-ornamen khas jepang. Ornament yang digantung dengan tulisan-tulisan Jepang. Ada pula lampion khas Jepang yang juga terdapat tulisan Jepang disisi-sisinya. Tembok bagian dalam restaurant dihiasi dengan lukisan ombak laut biru dan ikon mangkok Jepang didepan lukisan manusia Sumo.
Dibagian meja barista juga terdapat kekhasan dari negeri  sakura, yaitu dengan adanya dinding kertas dibagian atas dari meja barista. Pencahayaan yang difokuskan dibagian dalam meja barista menambah keelokan dari restaurant tersebut. Kekhasan negeri sakura juga tampak dapi pakaian yang dikenakan pelayan restaurant. Mereka mengenakan pakaian khas Jepang, kimono.
Setelah memasuki dan duduk di salah satu meja, anda akan didatangi salah seorang pelayan yang akan memberikan buku menu kepada pembeli. Dalam buku terdapat banyak sekali varian masakan Jepang. Mulai dari masakan pembuka, masakan berat, hingga masakan penutupnya. Menu appetizer disini ada sepuluh varian yang ditawarkan. Ada miso soup, kakiage, nasubi tempura, sweet potato tempura, kroket, ebi tempura, kushi katsu, gtoza,cawanmushi, danagedasi tofu. Selanjutnya ada berbagai varian remen ludon, rice bowl chiken, rice bowl beef, rice bowl salmon, topping dan salad, sushi, bento set, deserts. Namun dari restaurant ini kurang varian minumnya. Karena minuman khas jepang yang ada hanya teh ocha saja. Namun untuk menu desert nya sangatlah menarik. Terdapat menu yang jarang sekali dijumpai ditempat-tempat lain. Yaitu es krim goring tempura.
Menu-menu tersebut merupakan menu halal yang dapat dipilih semua muslim. Hanya saja untuk orang Indonesia yang tidak terbiasa makan daging mentah, disaranka untuk tidak memilih menu sushi yang ada kata salmon maupun tunanya. Karena daging didalamnya merupakan daging mentah. Ditakutkan jika tidak terbiasa makan makanan tersebut akan membuat perutnya memberontak.
Jika ingin memesan maka harus memanggil lagi pelayan dan menyebutkan menu apa saja yang dipesan. Setelah itu pelayan akan kedapur untuk memberi tahu kokinya menu yang dipesan. Setelah itu pelayan akan datang lagi memberi alat makan yang dapat digunakan untuk makan. Alat-alatnya ada sedotan, sendok, garpu, sumpit, tisu, dan tusuk gig. Setelah menu yang dipesan selesai dibuat, pelayan akan datang lagi untuk menyajikan menu yang dipesan.
Andalan menu dari restaurant ini adalah rice bowlnya. Itu merupakan nasi yang ditaruh dalam mangkuk dengan daging yang digoreng menggunakan tepung yang dibumbui saus khas jepang ditambah bawang bombai dan jamur kancing. Kemudian ada ramen Jepang dan sushi roll. Harga dari setiap menu termasuk dalam kategori dapat dijangkau kelas menengah. Harganya mulai dari delapan ribuan hingga empat puluh ribuan. Bahkan ada menu paket hemat juga.
Bahan-bahan yang digunakan dalam setiap masakan yang disajikan merupakan bahan-bahan lokal yang ada di Indonesia. Bumbu yang dibuat pun berasal dari bahan-bahan yang ada di Indonesia, hanya saja dibuat seperti bumbu khas dari Jepang.
Pada kesempatan ini saya dan teman saya memesan empat varian makanan dan minuman. Yaitu niniku chiken katsu, beef teriyaki, chiken grilled teriyaki, dan chiken katsudon. Kemudian untuk minumnya kami memesan jasmine tea, nestle lemon tea, ocha, dan soft drink.
Saat itu saya penasaran mengenai cara pembuatan dari menu yang saya pesan. Saya mencoba bernegoisasi dengan pelayan agar saya diperbolehkan untuk melihat proses pembuatannya. Namun sangat disayangkan, karena dapur yang ada sangat kecil, maka saya tidak diperbolehkan untuk melihat proses pembuatannya. Bahkan saat saya dan teman saya bertanya beberapa hal mengenai menu yang kami pesan, pelayan tersebut malah seakan memeberikan respon yang kurang baik.
Saya memesan menu chiken grilled teriyaki dan soft drik. Itu adalah nasi yang ditaruh dalam mangkuk dan diatasnya diberi daging ayam goreng yang dibalur dengan tepung tapioka dan dibumbui saus teriyaki dengan tambahan bawang bombai dan jamur kancing. Rasanya asin manis dari saus teriyakinya. Ditambah ada aroma bawang bombai yang ditumis bersama dengan jamur kancing. Disajikan dalam mangkok khas jepang berwarna hitam dibagian luar dan putih dibagian dalamnya. Menu ini dapat dipesan dengan harga dua puluh ribu rupiah. Porsinya pas untukkaum wanita, tapi untuk lelaki mungkin kurang karena nasinya sedikit. Untuk minumnya saya memilih soft drink. Yaitu sprite yang disajikan dengan gelas berisi es Kristal. Pilihan ini seharga Sembilan ribu rupiah.
Menurut pandangan saya sebagai seorang muslim, menu-menu di restaurant ini merupakan sebuah pemborosan. Jika dilihat dari makanan yang saya pesan, sangatlah tidak sebanding dengan harganya. Jika kita memesan masakan rumah makan, harga segitu sudah dapat memesan untuk dua porsi menu ayam. Sedang di restaurant tersebut hanya mendapat satu menu saja. itupun daging ayamnya kecil sekali dan bawang bombai dan jamurnya juga sedikit. Bumbunya pun hanya saus teriyaki saja. Tidak ada bumbu lain yang digunakan. Minuman yang saya pesan pun juga harganya jauh berbeda dengan harga dipasaran. Ya saya maklumi mengenai masalah pajak dari restaurant tersebut.
Selain itu ada beberapa menu yang terbilang tidak sesuai dengan harganya. Seperti kakiage yang dibandrol dengan harga sepuluh ribu rupiah. Padahal jika diperhatikan dari keterangan dalam menu, kakiage hanya berupa bakwan. Bedanya adalah tepung yang digunakan. Ada sweet potato tempura, yang sebenarnya adalah ubi goreng tempura. Nasubi tempura, yaitu terong yang iris tipis dan digoreng tempura. Kroket yang harganya Sembilan ribu rupiah, padahal dipasaran harga termahal adalah tiga ribu rupiah.
Selanjutnya ada menu topping dan salad. Untuk menu daging harganya mulai dari dua puluh ribuan. Jika dilihat dari gambarnya, daging tersebut berukuran sangat kecil. Yang membuatnya terlihat besar adalah tepung yang digunakan, itupun tepung yang digunakan adalah tepung tapioca saja. Kemudian ada menu yang membuat kami sedikit tertawa, yaitu ontama. Ontama merupakan telur mata sapi yang digoreng setengah matang maupun matang. Sebuah telur yang mentahnya hanya dibandrol seribu limaratus rupiah, didalam menu harganya menjadi lima ribu rupiah.
Untuk menu minuman, dua teman saya merasa seperti tertipu. Untuk yang memesan jasmine tea, dia merasa ketippu karena yang dirasakan hanya seperti minum es the biasa dan tidak ada aroma jasmine dalam the tersebut. lalu teman saya yang memesan ocha lebih merasa kecewa lagi. Untuk jasmine tea dan nestle lemon tea masih terdapat rasa manisnya, tetapi minuman yang dia pesan terasa tawar. Bahkan dia berkata jika lebih baik dia tadi pesan air mineral kalo tahu rasanya sama-sama tawar. Bahkan untuk air mineral disini juga dibandrl dengan harga yang tak lazim pula, yaitu seharga enam ribu rupiah.
Dari yang saya lihat, orang-orang yang singgah di restaurant tersebut adalah orang-orang yang mengutamakan gengsi. Yang menjadikan brand sebagai gaya hidup mereka. Atau mungkin malah orang-orang yang penasaran saja dengan masakan jepang. Orang-orang tersebut datang ke restaurant kebanyakan dengan maksud berunding atau rapat kecil maupun sedang mengerjakan tugas lelompok.
Namun sebagai seorang, muslim alangkah baiknya tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk memenuhi nafsu belaka. Boleh mencobanya namun tidak menjadikannya sebagai kebiasaan.
Jika kita bisa menahan nafsu tersebut maka kita akan lebih memilih tempat sederhana dibanding ketempat elit yang hanya mengatasnamakan brand belaka. Dengan memilih tempat sederhana, otomatis harga yang dikeluarkan akan lebih sedikit serta sisanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan lainnya. Kerna sudah dijelaskan dari berbagai sumber, baik al-Quran maupun al-Hadizt bahwa Tuhan dan Rosuul tidak suka dengan hambanya yang berlebih-lebihan. Sederhana itu lebih baik seperti yang diajarkan oleh Rosulullah SAW.
Nama : Dwi Ambarwati
Kelas : PBS 2C
Nim : 175231114
Restaurant : Tokio Bowl The Parrk Mall Solo
Waktu kunjungan : Kamis, 26 April 2018




Minggu, 25 Maret 2018

Essay kehidupan kampus

Nama: Dwi Ambarwati
Nim: 175231114
Kelas: PBS 2C

Perubahan Penampilan Seorang Mahasiswi

Menjadi seorang mahasiswi adalah impian banyak pelajar Sekolah Menengah Atas dan sekolah lainnya yang sederajat. Hal yang membuat mereka tertarik melanjutkan studi perkuliahan salah satunya adalah factor gengsi gaya berpakaian mahasiswi yang sangat modern seperti yang ditampilkan dalam film-film ditelevisi. Dimana didalam televisi digambarkan bahwa mahasiswi itu berpenampilan modern dengan berbagai gaya pakaian dan gaya rambut. Pakaian dengan berbagai model bentuk dari yang mini bahan sampai yang menggunakan bahan yang tampak tak pantas dikenakan oleh kaum akademisi, bagaimanapun juga sebagai kaum akademisi harus mencerminkan gaya busana yang rapi. Namun begitulah model pakaian yang banyak digemari para pembuat film di dunia hiburan dan para remaja masa kini yang terpengaruh oleh gaya busana kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan budaya local Indonesia, seperti menggunakan celana jeans dengan atasan kaos oblong dibalut jaket levis, dress sepanjang lutut, hingga menggunakan rok mini ditambah dengan blazer.
Kemudian gaya rambut yang bermacam-macam bentuk dan warna. Ada yang berbentuk gelombang, kerinting gantung, lurus, hingga dibentuk gimbal. Ada yang diwarna coklat agar tampak seperti orang barat, ada pula yang diwarna-warni seperti pelangi. Ada  yang diberi warna coklat diatasnya dan bawahnya diberi warna terang seperti biru, hijau, merah, dan warna lainnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa merek atelah terpengaruhi oleh budaya asing yang bersumber dari dunia maya. Gaya asal meniru ini, sudah mewabah dikalangan remaja jaman sekarang.
Begitulah pemikiran setiap siswi yang akan menanjutkan studinya ke jenjang perkuliahann. Namun kenyataannya sangatlah berbeda. Apalagi perguruan tinggi yang mereka masuki adalah perguruan negeri yang berbasis islam seperti IAIN Surakarta. Dimana didalamnya terdapat aturan setiap mahasiswi diwajibkan mengenakan hijab dan pakaian sesuai syariat islam. Menggunakan rok kain, baju yang tidak ketat dan bukan berbahan kaos, mengenakan kaos kaki, serta jilbab yang menutupi dada.
Pakaian syari seperti ini dianggap sebagai gaya berpakaian yang tidak modern dan dapat membuat mereka dianggap sebagai orang cupu dimata teman-temannya yang kuliah di PTN. Karena model pakaian syari yang seperti itu-itu saja. Pakaian dengan rok panjang menyapu jalan, baju yang nampak kebesaran, dan jilbab besar seperti mukena. , ditambah mengenakan kaos kaki setinggi lutut.
Pakaian seperti itu banyak sekali yang tidak tertarik. Mereka menganggap jika mengenakan pakaian syari akan merasa gerah karena bahan pakaian yang tebal dan bentuknya yang menutup seluruh tubuh. Mengguanakan pakaian syari akan menghambat gerak mereka dan membuat semua tampak ribet dijalani. Bahkan mereka mengganggap pakaian syari  adalah pakaian  seorang teroris seperti yang dikatakan orang-orang awam diluar sana.
Namun karena banyaknya wanita yang mengenakan jilbab ingin berpenapilan stylish, mendoronng banyaknya designer menciptakan pakaian muslim yang modern dengan tetap mempertahankan syariat islam. Sekarang ini sudah banyak pakaian muslim dengan berbagai model yang tidak lagi itu-itu saja. Mulai dari pakaian yang sederhana hingga pakaian muslim yang glamor. Pakain syari sekarang ini sudah memiliki banyak varina bentuk yang tidak kalah menariknya dari pakaian trendy lainnya yang sangat tidak sopan bila dikenakan seorang akademisi. Hingga sekarang ini pakaian syari menjadi trend tersendiri bagi kalangan wanita.
Banyak mahasiswi baru yang tidak tahu akan peraturan berpakain pada awal perkuliahan di IAIN Surakarta dan mereka mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan kampus. Seperti tetap mengenakan celana jins dengan baju ketat dan jilbab yang transparan. Dan sesampainya mereka dikampus mereka menjadi pusat perhatian kakak tingkat mereka. Hal tersebut membuat mereka rishi dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengenakan pakaian sesuai yang dikenakan mahasiswi lainnya dikampus. Selain peraturan dari kampus, ada juga hal lain yang turut mengubah gaya berpakaian mahaswi di IAIN Surakarta, yaitu pertemanan mereka.
IAIN Surakarta adalah perguuruan tinggi berbasis islam yang banyak diminati siswi-siswi dari sekolah islam seperti Madrasah Aliyah Negeri, pondok pesantren, maupun sekolah berbasis islam dimasyarakat. Dengan demekian penampilan mahasiswi dari instalasi sekolah islam adalah model pakaian syari yang sudah sesuai dengan peraturan kampus. Bahkan ada pula yang mengenakan cadar. Pertemanan ini dapat merubah gaya berpakaian masasiswi lain yang bukan berasal dari instalasisekolah islam. Dimana mahasiswi dari instalasi umum akan menyesuaikan cara berpakaian mereka agar sesuai dengan teman-teman kampusnya. Karena jika mereka mempertahankan cara berpakaian lamanya akan nampak mencolok perbedaannya. Apalagi jika mereka bergabung dengan organisasi mahasiswa yang berbau dakwah dimana didalamnya berisikan orang-orang islami yang berpakaian syari.
Walaupun  awalnya mereka menganggap jika gaya berpakaianya syari tampak seperti tidak modern dan cenderung ndeso.  Namun dengan adanya perancang busana yang membuat pakaian syari menjadi pakaian stylish, membuat mahasiswi tidak lagi malu mengenakan pakaian syari dan malah menganggap bahwa pakaian syari adalah pakaian modern. Sehingga mahasiswi yang masuk IAIN Surakarta tidak lagi merasa kampungan jika mengenakan pakaian syari. Dengan banyaknya model pakaian syar’i yang ditawarkan membuat penampilan mahasiswi IAIN berubah yang awalnya tidak suka mengenakan pakaian syari menjadi tertarik menggunakannya.
Itulah beberapa hal yang membuat gaya berpakaian seorang mahasiswi berubah yang awalnya mengenakan pakaian yang terbuka sekarang mengenakan pakaian yang tertutup. Masih banyak hal lain yang menjadi sebab mahasiswi merubah gaya berpakaiannya. Seperti mereka memang benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi yang taat akan perintah dari Tuhan. Namun perubahan seperti itu hanyalah dialami segelintir orang saja.

Observasi pondok pesantren Budi Utomo

Assallamualaikum warahmaturahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Dwi Ambarwati dari Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah IAIN Surakarta. Didalam tulisan ini saya akan menceritakan mengenai hasil observasi saya dengan rekan kerja sama, Siti Sholikhatun di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan menceritakan mengenai perjalanan kami menuju pondok pesantren Budi Utomo, kehidupan di pondok pesantren Budi Utomo, dan tehnik pengajaran yang ada di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan menceritakan apa saja yang kami lihat dan kami dengar selama kami ada di pondok pesantren Budi Utomo. Untuk dapat tahu lebih rincinya silahkan baca ulasan berikut.

Tentang

pondok pesantren Budi Utomo meruupakan pondok pesantren LDII yang berkonsentrasi mengenai tafsir Qur’an dan hadist. Pondok pesantren Budi Utomo berdiri tahun 1993. Terletak di kampung Sekip, kelurahan Kadipuro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Di pondok pesantren Budi Utomo, terdapat tiga program pembelajaran, yaitu program reguler, pelajar dan Hadist Besar. Santri yang mondok didalamnya terdapat sekitar 280 santri dan telah memiliki lebih dari 2000 aluumni yang tersebar diberbagai cabang LDII di seluruh indonesia.

Perjalanan

Observasi lokasi kami lakukan pada hari kamis 15 Maret 2018 pukul 09.30 WIB. Awalnya kami tidak memiliki tujuan akan melakukan observasi dimana, kemudian kami mencari informasi dari internet mengenai pondok pesantren terdekat. Dari situlah kemudian kami menemukan pondok pesantren Budi Utomo. Terletak di kampung Sekip, kelurahan Kadipuro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.
Karena lokasi pondok pesantren Budi Utomo tersebut merupakan tempat baru bagi kami, kami memutuskan untuk mencari lokasi dengan bantuan google maps. Pencarian dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan waktu pencarian lokasi dapat kami tempuh dalam durasi waktu 45 menit. Hari tersebut cuaca begitu cerah, hingga tak jarang kami mengeluh kepanasan. Banyak debu bertebaran sepanjang jalan, ditambah dengan polui dari kendaraan-kendaraan besar pengangkut barang yang lalu lalang.
Sesampainya disana kami langsung menuju pos satpam dan meminta izin untuk diantarkan ke kantor pesantren guna bernegoisasi mengenai maksud dan tujuan kami datang ke pondiik pesantren tersebut. Kami pun langsung dipertemukan dengan salah satu sesepuh di pondok pesantren Budi Utomo, beliau adalah bapak H. Muhammad Machrus. Kami diterima dengan hangat oleh pengurus pondok pesantren Budi Utomo. Pada waktu menunggu bapak Machrus, kami dijamu dengan ramah dan ditemani berbincang sebentar. Setelah bapak Machris tiba, beliau langsung memberikan senyuman hangat pada kami dan berbincang sedikit mengenai pondok pesantren Budi Utomo.
Setelah berbincang sedikit, kami kemudian menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke pondok pesantren Budi Utomo, yaitu untuk mengetahui kehidupan pondok selama 24 jam. Maka dari itu kami meminta izin kepada bapak untuk diperbolehkan menginap dan mencatat setiap apa yang dilakukan santri di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan mulai menginap pada hari jum’at 16 Maret 2018 sekitar ba’da Ashar. Tanggapan dari bapak Machrus begitu ramah, bahkan beliau langsung mencarikan kami pendamping dalam melakukan observari pondok pesantren Budi Utomo.
Kami pun berbincang-bincang sebentar mengenai apa yang akan kami lakukan selama kami menginap di pondok pesantren Budi Utomo. Dari situ pendamping kami menanggapinya dengan baik dan ramah. Kami pun diajak untuk berkeliling sebentar di asrama putrinya. Disitu kami ditunjukkan tentang fungsi dari beberapa kelas, ruangan, dan setiap kamarnya. Kami diajak untuk melihat pondok pesantren Budi Utomo dari atas. Dari situ kami dapat melihat setiap aktivitas santri dengan jelas.
Setelah selesai berkeliling asrama, kami memutuskan untuk kembali ke Kartasura. Sebelum kami berpamitan pulang, kami melakukan dokumentasi dengan pendamping kita nanti. Kami pun berpamitan pulang pada pukul 11.00 WIB.
Kami pulang masih mengunakan bantuan google maps, karena kami lupa jalan yang kami tempuh tadi. Perjalanan pulang kami menggunakan rute yang berbeda dengan jalan kami berangkat tadi. Kami menggunakan jalan yang lebih dekat dibanding jalan berangkat.

Awal

Kami melakukan perisiapan untuk observasi yang akan kami lakukan di pondok pesantren Budi Utomo. Namun pada saat kami akan berangkat menuju pondok pesantren Budi Utomo, hujan turun dan memaksa kami untuk menunda perjalanan kami. Hujan reda sekitar pukul 17.00 WIB. Kami berunding sejenak dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ba’da maghrib. Setelah kami menunaikan sholat maghrib, kami bergegas berangkat menuju pondok pesantren Budi Utomo. Kami masih menggunakan bantuan google maps dan jalan yang kami ambil pun berbeda pula dengan jalan yang kami gunakan hari kamis, baik waktu berangkat mauoun pulang.
Ditengah perjalanan kami mampir sebentar untuk membeli sesuatu. Pada saat ami membeli keperluan kami, bertepatan dengan waktu sholat Isya’. Kami pun memutuskan untuk menunaikan sholat Isya’ di masjid dekat tempat kami membeli keperluan. Setelah itu kami segera bergegas melanjutkan perjalanan ke pondok pesantren Budi Utomo.
Diperjalanan kami sedikit terhambat oleh kemacetan. Banyak sekali keendaraan berat yang sedang beriprasi pada waktu itu. Hingga kami pun harus pandai-pandai memilih jalan agar terhindar dari kemacetan. Kami pun sampai di pondok pesantren Budi Utomo pukul 20.15 WIB.
Sesampainya kami disana, kami langsung menemui petugas jaga untuk mencarikan pendamping kami kemarin. Namun pendamping yang kami maksud sedang ada kelas yang tidak boleh ditinggalkan. Kami pun ditunjukan pendamping baru dan itu adalah bunda asrama putri sendiri. Beliau adalah bunda Titin, dia juga merupakan alumni dari pondok pesantren Budi Utomo yang diminta untuk megajar santri di pondok pesantren Budi Utomo.
Karena kami tiba pada waktu malam hari, kegiatan harian para santri pondok pesantren Budi Utomo sudah dimulai sejak ba’da Maghrib. Kami pun berbincang seputar pondok pesantren Budi Utomo dengan pendamping baru kami, bunda Titin, dan salah satu guru  pondok pesantren Budi Utomo. Kami berbincang mengenai kurikulum yang dipakai di pondok pesantren Budi Utomo, jumlah santri yang sedang belajar di podok tersebut dan sedikit sejarah pondok pesantren Budi Utomo. Setelah itu kami melihat sebentar mengenai kegiatan santri diwaktu malam. Kemudian kami diantarkan kekamar yang akan kami tempati untuk menginap. Tempatnya begitu bersih dan rapi. Didalamnyaa terdapat kipas angin dimana jika merasa kepasan dapat menggunakannya. Sebelum kami menuju kamar, kami melihat-lihat sebentar tempat makan para santri putri. Barulah kami pergi untuk istirahat dikamar yang disediakan.
Kami  mulai menginap pada malam itu juga. Kesokan harinya kami mulai melihat-lihat semua kegiatan yang ada di pondok pesantren Budi Utomo mulai pertama kali bangun tidur hingga mereka tidur lagi. Kami memasuki setiap kelas-kelas yang ada, mulai kelas pegon, cepatan, lambatan, hadist besar, dan tafsir baik dalam bahasa jawa maupun yang berbahasa jawa. Kami mengikuti kegiatannya hingga ba’da maghrib. Selepas ba’da Maghrib, kami lagsung berpamitan pulang karena kami takut kemalanman sampai di Kartasuranya.
Perjalanan pulang kami masih menggunakan google maps, mengingat jika kami tidak tahu arah jalan di kota solo ini. Walaupuun sudah menggunakan google maps dan kami sudah beberapa kali melakukan perjalanan ini, kami masih mengalami salah jalan. Mengingat jika kami pulang pada waktu malam hari, dimana semua tampak berbeda dari kedaan siang harinya. Kami pun harus putar balik arah menuju jalan yang benar. Akhirnya kami sampai di Kartasura pada pukul 20.00 WIB. Dan sebelum kami kembali ke ks kami maing-masing, kami mampir sebentar diruamah makan guna mengganti energi kami karena kami tidak ikut makan dipondok waktu siang dan sore harinya.

Kehidupan pondok

Agenda pertama para santri dimulai pada pukul 03.00 WIB dini hari. Mereka dibangunkan untuk melaksanakan sholat malam atau sholat tahajud. Sebelum melaksanakan sholat malam, mereka melakukan apel pagi terlebih dahulu. Apel paginya berupa pemberian motivasi mengenai manfaat sholat malam. Srtelah apel barulah mereka melaksanakan sholat malam berjamaah di masjid.
Setelah melaksanakan sholat malam, mereka dibebaskan untuk melakukan aktivitas lain hingga subuh. Pada waktu ini, ada yang mengisi waktu dengan tilawah, mencuci baju, menyeterika, mandi, bahkan ada yang memilih untuk tidur lagi. Ada pula yang diberi amanah untuk menjaga kebersihan melakukan piket bersama-sama. Karena setelah sholat shubuh, tempat belajara mulai digunakan kembali.ada yang membersihkan kelas, kamar mandi, hingga halaman pondok.
Menjelang subuh, ada yang bertugas membangunkan kembali sanrei yang tidur untuk segera ber wudhu dan menuju ke masjid untuk melakasanakan sholar subuh. Sambil menunggu sholat subuh dimulai, sebagian dari santri pondok pesantren Budi Utomo melakukan tilawatil qur’an. Ada yang sedang belajar menghafal maupun duduk berdzikir. Kemudian mereka melakukan sholat subuh jamaah dengan khusyuknya.
Kemudian setelah sholat subuh, agenda pagi pun dimulai. Agendanya dibagi menjadi beberapa kelas sesuai tingkatan masing-masing. Ada yang kelas bacaan atau kelas dasar, kelas pegon, kelas lambatan, dan kelas saringan. Pada waktu ba’da shubuh, kami melihat-lihat kelas cepatan. Kelas tersebut berada didalam masjid dengan santri putra dan putri dipisahkan oleh tirai. Kelas capatan adalah kelas terakhir sebelum mereka disaring dan dikirim kebeberapa daerah untuk menyabarkan ajarannya.
Kegiatan selesai pada pukul 06.00 WIB. Kemudian para santri yang sedang menjadi pelajar bersiap untuk sekolah. sedang yang tidak sedang menjadi pelajar, merek melakukan kegiatan pribadi. Mulai dari mandi, hafalan, tilawah, dan lain sebagainya. Selanjutnya ada sarapan pagi pada pukul 07.00 WIB. Sarapan disediakan oleh dapur pondok dimana ada penanggungjawab dapur dibantu oleh santri putri yang bertugas untuk memasak makanan yang akan disajikan.
Kegiatan dimulai lagi pada pukul 08.15 WIB setelah sholat sunnah dhuha. Setelah sholat dhuha, mereka langsung menuju kelas mereka masing-masing sesuai dengan tingkatan mereka. Pada waktu itu, kami tertarik untuk melihat kelas pegon. Disana, sebelum guru datang, mereka membaca bacaan sholat satu rakaat. Kemudian dilanjut dengan tilawah yang dibaca salah satu santri putra dan dilanjutkan oleh salah satu santri putri. Setelah guru datang, mereka kemudian duduk rapi dan mulai belajar. Pelajaran yang diajarkan pada waktu itu adalah mengenai tajwid. Guru datang dan langsung menuliskan salah satu ayat al-Qur’an dan meminta santrinya untuk menganalisis ada berapa tajwid yang digunkan dalam bacaan tersebut.
Kemudian kami beranjak ke kelas cepatan. Kelas cepatan berada didalam masjid Baitul A’laa. Disana antara santri putri dengan santri putra dibatasi oleh pembatas yang terbuat dati kayu triplek dan guru yang mengajar berada ditengah-tengah pembatas. Para santri tidak belajar dalam keadaan duduk seperti pada pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, tetapi mereka duduk dibawah dengan bermejakan bangku kecil dari bahan plastik. Cara duduknya pun tidak rapi seperti di sekolahan, melainkan duduk senyaman para santri yang belajar.
Selanjutnya kami melihat-lihat kelas berikutnya, yaitu kelas bacaan. Kelas bacaan merupakan kelas dasar yang harus dikuasai santri sebelum melanjutkan jenjang berikutnya. Kelas bacaan berada dilantai dua masjid Baitul A’laa. Pada waktu itu bertepatan dengan jadwal setoran hasil belajar para santri. Setorannya dilakukan dengan satu per satu santri membaca al-Qur’an dan setelah membacanya, santri diminta untuk menunjukkan tajwid-tajwid yang ada dalam bacaaan tersebut.
 Selepas dari kelas bacaan, kami kemudian melanjutkan untuk melihat kelas hadist besar. Kelas yang diperuntukan untuk santri yang telah melakukan pengabdian dimasyarakat. Dikelas ini diajarkan tantang tafsir hadist-hadist besar seperti hadist imam Bukhori, imam Hambali, Imam syafi’i, dan hadist besar lainnya.
Selesai dari kelas hadist besar, kami kemudian menujju asrama putri untuk istirahat, bersamaan dengan berhentinya semua kegiatan pesantren menjelang waktu sholat dzuhur. Semua santri kemudian menuju ke masjid Baitul A’laa untuuk melakukan sholat dzuhur berjamaah. Setelah sholat, semua santri menuju tempat makan untuk makan siang, mengisi tenaga untuk melaksanakan kegiatan selanjutya.
Kegiatan dilanjut lagi pada pukul 13.00WIB. Diwaktu ini kami memilih untuk melihat kelas tafsir hadist yang disampaikan dalam bahasa jawa. Lokasinya berada di lantai dua gedung utama. Disana penyampaian hadistnya disampaikan dalam bahasa jawa campuran, terkadang menggunakan ngoko alus, kromo ngoko, bahkan juga terkadang menggunakan ngoko biasa. Kami mengikuti kelas ini hinngga selesai pada pukul 15.30 WIB, tepat sebelum adzan Ashar berkumandang. Kelas kemudian selesai dan para santri berkumpul kembali di masjid Baitul A’laa untuk melaksanakan ibadah sholat Ashar.
Setelah sholat Ashar, seharusnya para santri ada kegiatan olahraga. Namun berhubung ba’da Ashar hujan, kegiatan olahraga tersebut tidak dapat dilaksanakan. Kegiatan pun diganti dengan kajian didalam Masjid. Kemudian para santri kembali ke asrama mereka masing-msing untuk melakukan kegiatan pribadi dan persiapan makan malam dan sholat Maghhrib. Kegiatan belajar mengajar akan dimulai lagi setelah seluruh santri melaksanakan sholat Isya’ dan akan berakhir pada pukul 22.00 WIB.

Tehnik pengajaran

Awal kali santri belajar di pondok pesantren Budi Utomo, mereka akan diajari mengenai bagaimana cara membaca al-Qur’an yang baik dan benar. Mereka akan diajari hingga santri tersebut dapat membaca lancar dan benar tajwidnya. Setelah mereka dapat membaca dengan baik dan benar, barulah mereka akan dinnaikan tingkatan tanpa terikat waktu. Karena yang menjadi patokan kenaikan tingkat dim pondok pesantren Budi Utomo bukanlah waktu lamanya para santri belajar, melainkan seberapa bisa santri tersebut memahani setiap apa yang diajarkan.
Setelah lolos dalam tingkatan awal, para santri akan diarahkan untuk dapat menulis makna dalam bentuk arab atau biasa disebut dengan pegon.mereka akan beajar hingga mereka bisa menulis pegon dengan cepat, baik, dan benar.
Setelah para santri menguasai pegon, mereka akan memasuki tahapan kelas tafsir. Penyampaian ini dilakukan dalam dua bahasa, ada yang bahasa indonesia dan bahasa jawa. Dalam penyampaian tafsir yang diajarka di pondok pesantren Budi Utomo, mereka menggunakan metode penurunan materi. Yaitu santri akan diberikan materi mengenai tafsir dari guru secara utuh dan santri tidak diperkenankan untuk menambah maupun mengurangi dari mareritersebut. Tafsir tersebut diperoleh dari guru besar mereka yang pernah belajar di arab dan paham akan bahasa arab itu sendiri. Kemudian guru besar tersebut menerjemahkan isi al-Quran dalam bahasa indonesia maupun dalam bahasa jawa. Dari situ beliau menularkan isi al-Quran dalam bahasa indonesia maupun bahasa jawa dan berpesan agar isi dari ajaran tersebut tidak ditambah maupun dikurangi sedikit pun.
Penyampaian materi disampaikan dengan menerjemahkan kata per kata isi al-Qur’an dan para santri menulisnya dalam bentuk pegon dalam buku mereka masing-masing. Kemudian setelah menyelesaikan satu ayat, akan diceritakan mengenai tafsiran dari ayat tersebut. Para santri pun akan mencatat tafsiran tersebut di kolom buku cacatan ang telah disediakan.
Setelah mereka menghatamkan tafsir al-Quran 30 juz dan hadist secara umum, mereka akan memasuki kelas berikutya, yaitu kelas lambatan  dan selanjutnya kelas cepatan. Barulah mereka akan melakukan penyaringan untuk seleksi di pusat pondok LDII dan mereka akan menjalani pengabdian dimasyarakat selama beberapa tahun.
Sepulang dari pengabdian dimasyarakat, mereka dapat melanjutkan studi lagi di Hadist Besar. Tingkatan yang leih tinggi lagi dimana santri akan belajar mengenai hadist-hadist besar yang ada. Dan seteah ereka lulus dari kelas Hadist Besar, mereka dapat mendaftarkan diri menjadi guru pondok maupun langsung terjun di dunia masyarakat luas untuk mengajarkan ajaran yang telah mereka terima.

Penutupan

Dari observasu yang kami lakukan, dapat kamu simpulkan kelabihan dan kekurangan dari pondok pesantren Budi Utomo. Kelebihan dan keunikan di  pondok pesantren Budi Utomo ini terletak pada bahasa yang digunakan dalam penyampaian tafsirnya. Dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Mereka beranggapan bahwa jika kita harur belajar bahasa Arab terlebih dahulu, waktu penyampaian materi hanya akan habis dalam pengajaran bahasa Arab, karena belajar bahasa Arab tidak dapat hanya ditemuh dalam setahun saja, butuh waktu lebih untuk menguasainya. Kemudian larangan unruk menambah maupun mengurangi hasil tafsir Qur’an dan hadist tersebut. Hal tersebut jika dipandang sisi positiv sangatlah penting guna menjaga agar pemahaman satu engan yang lain dapat diserasikan dan tidak ada pemahaman yang bertentangan.
Kemudian kekurangan pondok pesantren Budi Utomo pondok pesantren ini adalah pengajarannya yang hanya mengenai tafsir Qur’an dan hadist saja. Untuk penyampaian pembelajaran lainnya hanya disampaikan beberapa kali saja dalam sepekan. Seperti kadang diwaktu kultum ba’da sholat Maghrib dan di malam Jum’at saja. Agenda hiburan lainnya juga kurang ditekankan dan kegiatan sehari-harinya hanya monoton itu-itu saja tidak berubah.
Mungkin ini saja hasil observasi yang dapat kami tangkap dengan baik mengenai pondok pesantren Budi Utomo, kurang lebihnya mohon maaf, akhir kata, wassallamu’alaikum warahmaturahi wabarakatuh.

Sabtu, 17 Februari 2018

Esaiy resume Tafsir ayat Al-Qur'an

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Al-Qur'an merupakan petunjuk seluruh umat manusia di dynia ini dalam menjalankan seluruh aktifitas sehari-harinya. bukan hanya membahas tentang masalah akidah, namun juga seluruh peristiwa didunia ini, bahkan juga membahas kehidupan setelah bumi hancur nanti. Namun dalam kitab Al-Qur'an terkadang terdapat kata ataupun kalimat yang belum dipahami. Oleh karena hal tersebut, penafsiran ayat demi ayat dalam al-Qur'an sangatlah diperlukan, guna dapat dipahami oleh seluruh manusia.

Kali ini saya akan memaparkan salah satu ayat al-Qur'an. Karena banyak sekali buku yang membahas tentang tafsuran al-Qur'an, saya memilih kitab al-Qurthubi sebagai sumber saya. Ayat yang saya unggah adalah Q.S Aali 'Imran ayat 13. Berikut penjabarannya:

Firman Allah dalam Q.S. Aali’imraan [3]:13 yang artinya : “katakanlah pada orang-orang yang kafir: “kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring kedalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.”

Katakanlah pada “katakanlah pada orang-orang yang kafir: “kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini)…” : dalam ayat ini yang orang-orang kafir yang dimaksud adalah kaum Yahudi. Menurut riwayat muhammad bin Ishaq, ayat ini turun setelah perang badar. Pada saat itu Rasulullah mengumpulkan orang-orang Yahudi dan berkata pada kaum Yahudi agar merka berhati-hati akan kekuasaan Allah, tak kala mereka tak mau mengakui rusul sebagai nabi Allah seperti yang tertera dalam kitab umat Yahudi. Lalu umat Yaudi berkata bahwa kemenangan kaum muslimin itu semata-mata hanya hal kecil karena yang diperangi adalah orang-orang yang tak pandai berperang. Tetapi akan jika  kaum Yahudi yang menjadi lawannya niscaya umat Yahudilah yan akan memenangkannya. Saat itulah turun ayat diatas dimana kaum Yahudi hanya akan mengalami kekalahan, dan dihari kiamat nanti mereka akan dimasukkan neraka jahanam.

Namun menurut riwayat Abu Shaleh, ayat ini turun pada saat kaum muslim mengalami kekalahan di perang Uhud. Dimana ayat tersebut sesuai dengan yang qiraah yang dibaa oleh Nafi’, dimana maknanya menjadi : mereka, kaum Quraisy dan kaum Yahudilah yang akan digiring kedalam neraka Jahanam dihari kiamat nanti.

Kemudian tentang firman Allah, “ …dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.” Zahir berpendapat bahwa tempat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah neraka Jahanam. Namun Mujahid berpendapat lain  bahwa makna dari ayat tersebut adalah seburuk-buruknya perolehan yang akan mereka dapatkan. Dengan kata lain maknanya adalah: itulah seburuk-buruknya perbuatan yang akan menggiring ereka kedalam neraka Jahanam.

Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa kaum kafir hanyalah akan mendapat kekalahan. Bukan hanya Yahudi saja, tetapi juga seluruh umat kafir selain islam yang apabila mereka melawan islam meraka hanya akan mendapat kekalahan. Seperti kisah kaum Quraisy dahulu yang berusaha melawan muslim, dan alhasil mereka hanya mebdapat kekalahan. walaupun mereka sempat menang dalam perang Uhud, tapi kemenangan itu hanya sementara karena setelah itu mereka kalah di perang selanjutnya. Adapun contoh di Indonesia dimanaBelanda hanya mengalami kekalahan melawan kekuatan muslin Indonesia.Walaupun dalam perjuangan Indonesia kaun lain ikut berpartisipasi, namun yang paling mendominasi adalah kaum muslim. Begiti pula yang akan dialami Yahudi nanti saat seluruh umat muslim bersatu dan melawan kaum kafir diakhir zaman nanti.

Abu 'Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Ibn fm Farrah Al-Anshari al khazraji al Andalusi al-Qurthubi, atau imam al-Qurthubi atau lebih dikenal dengan abu Abdillah merupakan seorang penafsir al-Qur'an yang lahir dari Cordoba Spanyol. Namun untuk tanggal kapan ia lahir, para ulama dan sejarawan tidak ada yang tahu. Bahkan siapa orang aua dan dengan siapa ia dibesarkan juga banyak yang tidak tahu. Namun salah satu sejarawan ada yang mengatakan bahwa al-Quthubi dibesarkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai petani pada masa dinasti Muwahidun.

Al-Qurthubi menganut madzhab fikih Imam Maliki. Kitab Al-Qurthubi yang ia tafsirkan selanjutnya banyak yang menjadikannya rujukan bagi para penafsir selanjutnya. Dikehidupan sehari-harinya ia dikenal akan sikap ketawaduannya, kealimannya, karismanya, keazuhudannya, dan ketekunannya dalam menjalankan ibadah. Sejak kecil ia sudah banyak belajar berbagai disiplin ilmu seperti hadits, bahasa arab, syair, dan al-Qur'an dibantu oleh guru-gurunya. Kemidian ia mulai memperdalam ilmu nya di Mesir hingga ajal menjemputnya pada ahad malam senin 9 syawal 671 H/ 1273 M. Sebelum sepeninggal beliau, ia telah menggoreskab karyanya menjadi sebuah buku tafsir. Banyak sekali karya yang telah ia terbitkan. Seperti fi Afdhal ad Adzkar, kitab al-Aqdhiyyah, risalah fi Alqam Alhadits, dan aain sebagainya. Namun yang paling terkenal adalah kitab Al-Qurthubi.

Sejak mempelajari Metodologi Studi Islam, dari meresume buku Metodologi Studi Islam hingga sekarang menafsirkan ayat al-Qur'an dapat diambil kesimpulan bahwa tafsir merupakan salah satu disiplin ilmu yang terdapat dalam Metodologi Studi Islam. Pelajaran ini disampaikan secara berbeda dari kegiatan kuliah pada umumnya, yaitu dengan meminta mahasiswannya untuk membaca dan memahaminya sendiri dalam bentuk resuman dapat menjadikan mahasiswa menjadi lebih paham. Karena mahasiswa mencari tahu sendiri tentang apa yang dipelajari. Bila saja penyampaian materi disampaikan dengan cara biasa, yaitu dengan penyampaian satu arah, belum tentu semua mahasuswa dapat mengambil inti dari apa yang disampaikan. Apalagi pembelajarannta mengunakan salah satu tehnologi yang ada yaitu memanfaatkan media blog sebagai sarana belajarnya. Kemudian dengan mrmanfatkan aplikasi pagrame yang memungkinkan membuat mahasiswa lebih kreatif dalam kepenulisannya. Namun yang menjadi kendala adalah tidak semua mahasiswa memiliki jaringan internet yang mewadahi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan, bila ada kesalahan, kekurangang maupun ketidakmenarikkan dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Karna disini saya juga baru belajar. akhir kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Minggu, 04 Februari 2018

Resume Metodologi Studi Islam

Nama : Dwi Ambarwati
Nim : 175231114
Kelas : PBS 2C
Buku : Metodologi Studi Isalm (Ilusrasi Kajian Islam Ranah Normatiif dan Empiiris)
Karya : Aris Widodo, M.A
Jml hal : 187
Tahun terbit : 2014

Metodologi Studi Isalm 
(Ilusrasi Kajian Islam Ranah Normatiif dan Empiiris)

Sisi Filosofi al-Qur’an; Beberapa Kisah Ilustrasi

Al-Qur’an adalah petunjuk yang isinya telah menyangkut seluruh aspek kehiidupan dengan gaya bahasa yang mampu dicerna semua manusia dari berbagai kalangan.
Al-Qur’an merupakan manisfestasi janji tuhan, berupa patunjuk pada Adam. Isinya berupa sumber dari segala sumber di dunia dan seisinya yang menghasilkan berbagai ilmu bidang disiplin terutama yang dibahas adalah filsafat. Penyampaiannya dalam bentuk kisah-kisah orang terdahulu.
Sisi-filosifis al-Qur’an merujuk ke-enam cabang filsafat: logika, epistemology, kosmologi, metafisika, etika, dan estetika. Cabang tersebut akan dijelaskan dalam pembahasan berikut. Logika merupakan peraturan yang mengarahkan pokok masalah ke pemikiran yang benar agar tiidak menggalami sesat-fikir. Seperti penggambaran sifat-sifat tuhan yang tidak dijelaskan secara langsung melainkan diterangkan dalam kisah nabi Ibrahim As. Epistemology merupakan jalan menentukan kodrat dan skop pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan pengetahuan yang dimiliki. Dijelaskan dengan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, yang menuturkan bahwa yang terlihat belum tentu benar. Kosmologi yang mengkajialam semesta. Metafisika, pembahasan mengenai benda-benda atau realita-realita yang ada di bumi secara fisik. Etika, mengajarkan mengenai hakekat hidup dan cara menjalani hidup. Dan terakhir estetika, pembahasan mengenai keindahan.
Dengan mengkaji al-Qur’an, dimana awalnya ingin membahas satu bidang, tetapi banyak bidang pula yangdapat kita ketahui.

Tauhid Sosial sebagai Basis Pendidikan Islam: Sebuah Artikulasi Filosofis-Qur’ani

Membicarakan pendidikan islam, maka kurikulumnya pun akan menyongkong idealis keislaman dan merujuk pada al-Qur’an. Penjelasan mengenai hal baik (tauhid) dan hal yang buruk (kufur dan syirik). Dari hal tersebut mestinya pendidikan islam menjadikan tauhid sebagai paradigmanya. Tauhid sosial juga merupakan paradigm pendidikan islam yang mengacu pada perluasan cakupan kesalehan. Allah memiliki banyak cara dalam menyampaikan pengetahuan pada manusia baik secara langsung, melalui malaikat(wahyu), melalui makhluk lain, maupun dengan perantara qalam. Dengan tauhid soosial diharap pendidikan tidak hanya dalam dimensi vertical saja, namun juga dimensi horizontal.

Per-satu-tubuh-an sebagai Simbol Pola Relasi Laki-laki dan Perempuan : Subuah konsep Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an

Perempuan selalu dianggap hina pada masa Yunani dan Romawi, kemudian berakhir di era Renaissance. Hingga saat ini banyak tuntutan mengenai kesetaraan gender di Eropa.  Menurut pandangan ulama Indonesia, yang dimaksud kesetaraan gender adalah persamaan laki-laki dan perempuan sebagai hamba. Menurut Muthahhari, pria dan wanita tidaklah sama, baik secara fisik(biologis) maupun tugas-tugasnya. Karena lelaki memiliki kelebihan dari wanita. Seperti diibaratkan sebagai persetubuhan dimana lelaki sebagai pemberi dan wanita sebagai penerima.

Teka-teki Ke-kekal-an Akhirat : Apresiasi atas Pemikiran Agus Mustofa (1963-…)

Kekal tidaknya akherat menjadi perdebatan banyak pemikir muslim. Pemikiran Agus Mustofa tentang ke-tidak-kekal-an akherat akan menjadi pembahasan pada bab ini. Menurutnya akherat adalah sesuatu yang ghaib, namun bisa saja tidak bagi orang lain. Seperti energy kinetic yang dulu dianggap ghaib namun sekarang bukan lagi ghaib. Akherat juga akan dijalani dibumi, menurulnya. Namun bumi dunia dan akherat bukanlah bumi yang sama, melainkan bumi akan mengalami berubahan yang memumbutuhkan waktu berjuta-juta tahun lamanya hingga pembagian penempatan manusia (syurga atau neraka). Seperti halnya bumi terbentuk dari teori Big Bang, maka bumi akherat pun nantinya juga bisa hancur seperti keadaannya semula.
Menanggapi pendapat Agus Mustofa, banyak ayat al-Qur’an yang dapat dijadikan sanggahan, seperti luas akherat itu seluas langit da bumi. Jadi belu tentu akherat nanti berada dibumi karena luasnya saja sangat berbeda. Namun bisa saja bumi juga termasuk dalam lingkup akherat tersebut. Kemudian pendapat mengenai kiamat kedua, kiamat dunia dan kiamat semesta bukanlah terjadi berurutan, malainkan terjadi bersamaan.

Anasir Filantropi dalam Prosesi Idul Fitri : tinjauan Filsafat Hukum Islam dalam Khazanah Ritual Isalm

Idul Fitri mrupakan ritual tahunan bagi umat muslim yang diawali dengan berpuasa sebulan penuh, dilanjut zakat Fitrah, dan ditutup dengan perayaan Idul Fitri. Seringkali idul fitri diartikan sebagai kembali suci, sedangkan menurut bahasa dan syara’ bermakna kembali berbuka. Diantara keduanya mengang tidak ada yang salah, ditinjau dari makna hasil akhir puasa. Fitrah juga bisa bermakna aklaq berdasarkan akar kata arab bisa membebtuk istilah lain.  Aklaq, karakter-moral yang ada pada manusia sebagai hasil pembentukan aktivitas yang dikerjakannya. Baik itu berbuatan baik maupun sebaliknya. Islam mengajarkan umatnya agar berakhak dengan akhlak Allah salah satunya dengan puasa dan zakat fithrah. Kemudian kita diajarkan untuk saling memaafkan sebagai bentuk peredaman amarah dalam diri. 0rang yang pantas merayakan Idul Fitri adalah mereka yang telah zakat dan memaafkan satu sama lain.

Pandangan Umat Islam di Belanda megenai Gerakan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah sebuah komuniti yang menjadi kontroversi hingga banyak sarjana melakukan penelitian terhadap kelompok ini. Gerakan ini lahir di India pada abad-19 oleh Mirza Ghulam Ahmad saat penjajahan oleh Inggris. Awalnya banyak muslim mendukung gerakan ini, namun ketika Mirza mengklaim dirinya seorang Mahdi, al-masih, bahkan seorang nabi, umat muslim kemudian berbalik menentangnya, meskipun masih ada yang mengkutinya.
Para ulama berpendapat bahwa ajaran ini bertentangan dengan islam, bahkan mengklaim Ahmadiyah sebagai non-muslim. Bahkan telah dilaksanakan konferensi yang mamutuskan untuk memboikot Ahmadiyah. Namun disisi lain Ahmadiyah menjadi pelopor gerakan dakwah islam dibeberapa negara Eropa, salah satunya Belanda. Mereka menyebarkan ajarannya dengan cara memasang panflet berbahasa belanda, ada pula dengan membagikan buku secara percuma, serta berdakwah dari orang ke-orang.
Banyak pandangan mengenai Ahmadiyah dari imam masjid. Ada sebagian imam merasa bahwa masalah Ahmadiyah sangatlah sensitif sehingga enggan memberi pernyataan mengenai Ahmadiyah. Ada pula yang memang benar-benar tidak tahu mengenai Ahmadiyah. Namun mayoritas menjawab bahwa yang mengklaim dirinya sebagai nabi adalah non-muslim.

Siklus Kehidupan Manusia dalam Perspektif Filsafat Budaya

Ritual, adalah sebuahperilaku tertentu yang mengatur tindakan dan perkataan yang tertib untuk menghubungkan diri dengan kepercayaan ghaib yang menjadikan proses transformasi hidup. Sedangkan riset of passage adalah ritual siklus kehidupan yang merubah status individu maupun kelompok.
Riset of passage sebuah masyarakat berbeda-beda sesuai dengan budaya yang ada. Missal budaya hamil di jawa berbeda dengan budaya hamil dimasyarakat Bugis. Kelahiran bayi disuatu tempat yang telah terpengaruh islam juga memiliki budaya sendiri seperti aqiqoh-an, kemudian sunatan bagi anak laki-laki, dan terakhir ritual pernikahan. Dalam pernikahan pun terdapat tiga pola, yaitu sebelum, saat, dan sesudah. Dimana masing-masing daerah punya tradisi sendiri-sendiri. Kemudian ada ritual kematian yang masing-masing daerah berbeda pula.
Meskipun memiliki ritual yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya tujuannya adalah sama, yaitu meminta keselamatan, keberkahan, dan kebaikan di kehidupan selanjutnya pada yang ghaib. Baik itu yang dimaksud roh penunggu, dewa-dewi, maupun tuhan.

Rabu, 22 November 2017

Tugas SPI

UCAP SYUKUR DENGAN RASULAN

Nama : Dwi Ambarwati
Kelas : PBS 1C
Nim : 175231114

Pendahuluan
Perkembangan islam di pulau Jawa sangat dipengaruhi oleh campur tangan Wali Songo, yaitu dembilan orang penyebar agama islam di Jawa. Sebelum Wali Songo datang mengajarkan agama islam di Jawa, agama Hindu-Budha telah terlebih dahulu singgah dan mengajarkan tradisi agamanya di Indonesia terutama di pulau Jawa. Tradisi-tradisi agama Hindu-Budha ini kemudian diterima oleh masyarakat Jawa dan menjadi tradisi Jawa hingga saat ini masih dapat dirasakan keberadaannya. Ajaran tradisi Hindu-Budha diajarkan kepada masyarakat pulau Jawa dengan berbagai cara, salah satunya yang paling ampuh adalah alkuturasi budaya. Ajaran Hindu-Budha disampaikan dengan mengakulturasi budaya jawa asli dengan tradisi Hindu-Budha. Begitu pula ajaran islam disampaikan dan diajarkan pada masyarakat Jawa. Para Wali Songo mengajarkan agama islam dengan tetap mempertahankan tradisi dahulu dengan ketentuan selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran islam. Banyak sekali hasil akluturasi budaya Hindu-Budha dengan agama islam yang hingga saat ini masih dilestarikan, terutama oleh masyarakat pedesaan. Seperti sholawatan, yasinan atau peringatan hari kematian, megengan atau penyambuatan bulan ramadhan, selikuran atau penyambutan malan lailatul qodhar, bersih dusun, dan masih banyak lagi lainnya.
Dari berbagai tradisi diatas, satu yang akan dijelaskan dalan narasi ini, tradisi bersih dusun atau sedekah bumi yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan Rasulan. Pemiliham tradisi ini sebagai bahan narasi inj karena tujuan tradisi ini adalah sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas apa yang telah mereka dapatkan dari hasil pengolahan bumi. Tradisi ini walaupun sudah banyak yang melupakannya, tetapi bagi masyarakat sekitar desa Watuagung masih dipertahankan karena jika ditinggalkan mereka percaya akan terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Penyusunan narasi ini menggunakan metode wawancara dalam mengorek informasi dari orang yang bersangkutan. Karena acara tradisi ini telah berlangsung sebelum observasi, jadi untuk metode observasi lapangannya tidak dapat dilakukan. Wawancaranya dilakukan di dusun Klampeyan, desa Watuagung, kecamatan Baturetno, kabupaten Wonogiri. Wawancara ditujukan kepada salah satu keturunan pemangku adat di desa Klampeyan, yaitu mbah Saiman. Beliau dipercaya sebagai salah satu orang yang boleh memimpin setiap tradisi yang diadakan di dusun Klampeyan.

Kenapa Rasulan?
Itulah cara masyarakat dusun Klampeyan bersyukur. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Sang Maha Pencipta kepada kita. Cara untuk bersyukur pun ada berbagai macam, ada yang dilakukan dengan bersedekah, sujud syukur, traktir temen, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula dengan masyarakat dusun Klampeyan, mereka menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas panen hasil bumi mereka dengan Rasulan. Semua itu tidaklah terjadi begitu saja. Mereja melakukannya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para pendahulu mereka. Itu tidak lain merupakan ajaran para Wali Songo yang mengajarkan agama islam di pulau Jawa. Meskipun dalan pelaksanaanya terlihat semacam ada unsur Hindu-Budha, tetapi tujuannya tetaplah untuk mengucap syukur atas hasil bumi yang didapat. Ya memang benar bahwa tradisi tersebut nampak seperti tradisi Hindu-Budha, hal tersebut dapat dilihat dari sejarahnya dimana sebelum islam masuk ajaran Hindu-Budha telah terlebih ada dan menjadi kebiasaan rakyat Jawa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Para Wali dalam pengajaran agama islam tidak bisa langsung menerangkan islam secara murni. Mereka nerdakwah dengan pendekatan terlebih dahulu dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat Jawa. Para Wali memulainya dengan memasukkan nilai-nilai islam dalam setiap tradisi masyarakat Jawa. Begitu pula dengan tradisi Rosulan yang awalnya merupakan tradisi Hindu-Budha dan kemudian dimasukki ajaran-ajaran agama islam. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat masyarakat Jawa.
Zaman sekarang sudah banyak tradisi mulai dilupakan oleh masyarakat. Namun untuk dusun Klampeyan dan sekitarnya masih tetap mempertahankan tradisi nenek moyang yang telah ada sejak dahulu. Mereka percaya bila mereka meninggalkan tradisi tersebut hal buruk akan menimpa dusun Klampeyan. Itulah masyarakat pedesaan yang masih kental dengan hal-hal yang tak lazim. Tapi tanpa dipungkiri, hal tersebut benar terjadi. Ada sebuah kasus dimana sebuah desa yang dulu mengamalkan tradisi ini dan kemudian meninggalkan tradisi tersebut. Kemudian desa tersebut mengalami keganjilan dan akan kembali melakukan tradisi tersebut demi kenyamanan desa bersama. Untuk masyarakat dusun Klampeyan menyadari hal tersebut berkesan agak musyrik, tapi untuk meninggalkan tradisi tersebut mereka balum mempunyai keberanian. Namun mereka mengubah niat Rasulan untuk saling berbagi satu sama lain sehingga tidak lagi terjerumus musyik lagi.

Jumat kliwon atau selasa kliwon
Untuk hari pelaksanaannya, masyarakat Klampeyan biasanya melaksanakan Rasulan kalo tidak hari juman kliwon ya hari selasa kliwon. Kenapa hari tersebut, tidak hari lainnya? Untuk itu mereka hanya meneruskan apa yang diwariska oleh pendahulu mereka. Setiap desa biasanya hari pelaksanaanya berbeda-beda. Ada yang hari senin wage, jumat pon dan hari-hari lainnya. Sama halnya dengan dusun Klampeyan, mereka hanya meneruskan apa yang diajarkan oleh pendahulu mereka.
Tradisi Rasulan dilaksanakan setiap setahun sekali. Lebih tepatnya adalah ketika masyarakat selesai panen padi. Tak jarang Rasulan sering disebut juga dengan syukuran panen padi. Tiap tahun pasti diadakan tradisi Rasulan, dimana harinya telah ditetapkan yaitu hari jumat kliwon atau selasa kliwon. Namun untuk bulannya tidak ditentukan. Tapi yang pasti sejak dulu tradisi dilakukan setelah selesai panen padi. Walaupun untuk zaman sekarang tidak pasti setelah panen padi melaksanakan Rasulan. Tradisi Rasulan saat ini biasanya diadakan sesuai dengan hasil musyawarah bersama mengingat bahwa sekarang pekerjaan masyarakat tidak lagi banyak yang menjadi petani.

Lokasi
Tradisi Rasulan seharusnya dilaksanakan ditempat kepala dusun. Tapi karena di dusun Klampeyan rumah kepala dusun tidak memungkinkan untuk digelar acara Rasulan, tradisi ini pun diselenggarakan ditempat yang memungkinkan sesuai kesepakatan bersama. Biasanya diadakan dirumah salah satu orang yang dihormati. Tak Cuma itu, lokasinya harus dapat diangkau oleh seluruh penduduk dusun Klampeyan. Jadi lokasinya haruslah ditengah-tengah dusun dan memiliki rumah luas yang dapat menampung seluruh penduduk.

Pelaksanaan
Kegiatan dimulai dengan seluruh masyarakat datang dengan membawa supitan sejumlah tujuh maupun lima. Supitan adalah nasi yang dibentuk bulat sebesar kepalan orang dewasa dan dibungkus daun pisang. Untuk jumlahnya tidak ditentukan. Jumlah supitan yang dibawa adalah jumlah hari yang dianut penduduk itu sendiri. Ada yang menganut lima hari, yaitu pon, wage, kliwon, legi, dan pahing. Ada pula yang menganut tujuhari, yaitu senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, dddan ahad. Jumlah tiap bungkus supitan pun juga beragam. Ada yang satu bungkus hanya diisi satu, ada pula yang diisi dua nasi. Kemudian untuk lauknya adalah ala kadarnya. Ada yang lauk ayam, telur, tahu, maupun tempe. Itu tidaklah dipersoalkan. Yang penting adalah mereka semua kumpul di satu tempat dan bersama-sama memanjatkan puji syukur atas segala yang telah mereka dapatkan kepada Sang Pencipta.
Setelah mereka berkumpul ditempat yang telah disepakati, kemudian bawaan mereka berupa nasi supitan tadi dikumpulkan jadi satu ditengah-tengah lokasi. Lalu mereka bersama-sama memanjatkan doa yang dipimpin oleh salah satu pemuka agama di dusun Klampeyan. Acara yang dilakukan pertama kali sebalum pembacaan doa yaitu sambutan dari kepala dusun dan penyampaian maksud dan tujuan dikumpulkannya seluruh warga dalam acara tersebut. Walaupun sebenarnya seluruh warga sudah tahu maksud dan tujuannya, tetapi hal tersebut sebagai formalitas bagi kepala dusun untuk menyampaikan sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan pambacaan ikrar tradisi Rasulan yang dibacakan oleh salah satu tetua yang dihormatui. Orang tersebut biasanya adalah mbah Saiman, orang yang diwawancarai sebagai narasumber narasi ini. Barulah doa dipanjatkan oleh orang yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih banyak dibanding warga biasanya. Selepas doa dipanjatkan, dua atau beberapa orang maju kedepan dan mengambil dua bungkus nasi supitan dari setiap bawaan yang dibawa penduduk. Nasi supitan yang diambil tadi dikumpulkan jad satu tempat dimana sebagian dibagikan lagi ke tempat bawaan penduduk dan sebagian lainnya dimakan bersama dilokasi. Saling tukar nasi supitan tersebut memiliki makna mengesankan. Hal tersebut dilakukan agar satu sama lain merasakan hasil bumi tetangganya. Kebersamaan dan kesamaan satu sama lain juga merupakan filosofi penukaran nasi supitan tersebut. Setelah semuanya selesai, penduduk pun diperkenankan kembali kerumah masing-masing dengan membawa nasi supitan yang telah saling ditukar tadi.
Pada saat pelaksanaan, terdapat berbedaan dengan ajaran Hindu-Budha yang biasa dijumpai di pulau Jawa. Berbedaannya yaitu, didalam tradisi Hindu-Budha selalu ada sesaji maupun syarat-syarat dalam pelaksanaan, namun dalam tradisi Rasulan tidak terdapat syarat-syarat sesaji yang harus dipenuhi. Syaratnya cukuplah nasi supitan yang dibawa penduduk dan semua penduduk kumpul menjadi satu dalam satu tempat. Walaupun kegiatannya seperti ajaran Hindu-Budha, tapi hal tersebut sanagtlah berbeda, karena sudah di modifikasi sedemikian rupa oleh para leluhur yaitu wali Songo agar hal tersebut tidaklah sama dengan ajaran Hindu-Budha. Tradisi yang dijalankan dari dulu hingga sekarang pun tidak terdapat perubahan banyak walaupun sudah melewati banyak generasi. Itulah hebatnya masyarakat desa dalam menjaga tradisi budaya mereka.

Hiburan
Untuk tradisinya memang diadakan setiap tahun, tetapi untuk menambah keseruan setiap lima tahun sekali atau tiga tahun sekali akan diadakan pagelaran wayang. Tujuan digelarnya pagelaran wayang ini semata-mata hanyalah untuk kesenangan seluruh warga dusun saja. Pagelaran wayang ini tidaklah begitu memiliki makna penting dalam tradisi Rasulan. Bukannya kenapa, tetapi memang yang paling diutamakan dalam tadisi Rasulan ini adalah berkumpulnya seluruh warga dusun dalam satu tempat dan saling bersyukur akan seluruh nikmat yang telah mereka peroleh. Tapi untuk pagelaran wayang ini sangatlah ditunggu-tungu oleh seluruh warga dusun Klampeyan. Karena pada saat digelarnya pagelaran wayang, akan ada banyak pedagang yang menjual pernak-pernik khas wayang. Ada pula makanan yang biasanya hanya dapat ditemukan pada saat ada pagelaran wayang saja.
Tempat pagelaran wayang pun juga ditentukan melalui musyawarah bersama. Karena untuk dusun Klampeyan belum memiliki balai pertemnuan seperti desa-desa lain pada umumnya. Pagelaran wayang sendiri dilaksanakan setelah tradisi Rasulan selesai dilaksanakan. Dimana Rasulan dilaksanakan pada saat bada isya dan pagelaran wayang dilaksanakan pada pukul sembilan malam dan selesai pukul tiga dini hari sebelum subuh.
Untuk cerita yang diangkat dalam pagelaran wayang seharusnya adalah cerita Dewi Sri, atau dewi padi. Hal tersebut disesuaikan dengan tujuan diadakan tradisi Rasulan ini, yaitu syukuran atas panen padi yang diperoleh. Namun karena cerita Dewi Sri kurang menarik, para penduduk desa pun memilih cerita lain yang menurut mereka itu lebih menarik dan asyik dibandinng cerita Dewi Sri. Cerita yang diusung biasanya yaitu cerita Ramayana, Mahabarata, dan lainnya yang didalamnya terdapat adegan goro-goronya. Serta ceritanya terdapat adegan-adegan perangnya. Semua keseruan-keseruan dalam pewayangan tersebut tidaklah ditemukan dalam cerita Dewi Sri sehingga para penduduk memilih menggantinya dengan cerita lain demi memuaskan kesenangan penduduk dusun Klampeyan dan sekitarnya.
Pagelaran wayang juga dimeriahkan oleh orkes dangdut. Musiknya pun musik dagdut Jawa Timuran atau sering disebut dengan musik koplo. Musik koplo akan dinyanyikan ditengah-tengah acara dimana dalam pewayangan disebut dengan sesi limbukan. Sesi yang ditunggu-tunggu dalam pewayangan karena menampilkan cerita-cerita lucu atau guyonan yang membuat para penonton tidak njenuh dengan cerita pewayangan yang terkesan membosankan. Namun terdapat sisi negatifnya ketika diselenggarakan pagelaran wayang. Yaitu banyaknya para pemuda yang datang dengan membawa minuman keras dan membuat kegaduhan ditengah-tengah pertunjukan. Walaupun sudah ada yang mengingatkan agar tidak membuat kegaduhan, mereka tetap saja tidak mematuhi teguran tersebut, bahkan polisi yang berjaga pun angkat tangan dalam mengatasinya.

Penutupan
Dari ulasan-ulasan diatas, dapat disimpulkan bahwa sejarah peradapan islam di Jawa itu benar adanya. Perkembangan islam di Jawa dimulai dengan beberapa tahapan, mulai dari tahapan awal masuknya islam dari berbagai penjuru hingga saat ini, saat islam murni mulai tumbuh walaupun hanya sekelumit orang saja. Cara penyampaian yang berbeda-beda, ada yang dengan perdagangan, perkawinana, maupun dakwah secara langsung. Namun yang paling membekas hingga saat ini adalah dakwah secara langsung yang disampaikan oleh para Wali Songo. Metode yang digunakan amatlah cemerlang yaitu dengan akulturasi budaya terdahulu. Dengan memasukkan nilai-nilai islam kedalam tradisi-tradisi terdahulu yang dianggap tidak dilarang dalam ajaran islam. Sehingga ajaran islam dirasa sebagai ajaran yang tidak memaksa dan tidak ribet dalam pengamalan sehari-hari. Ajarannya tidak perlu lagi dimulai dari nol, hanya sedikit merubah kebiasaan lama masyarakat Jawa.
Budaya-budaya hasil akulturasi budaya lama dengan budaya islam untuk daerah perkotaan memang sudah tidak dapat ditemukan lagi, mengingat perkembangan zaman dan tehnologi yang semakin maju. Serta akal kritis dalam mencari kebenaran sesungguhnya akan ajaran islam murni seperti yang diajarkan nabi Muhammad Saw. Namun untuk daerah-daerah pedesaan, sisa-sisa akulturasi budaya buatan para Wali Songo masih dapat ditemukan walaupun sudah terdapat perubahan karena tidak dituliskan dalam hitam diatas putih. Ajaran yang sekedar mengandalkan ingataan para penerus generasinya. Sehingga terdapat berbedaan-perbedaan daerah satu dengan daerah lainnya walaupun tujuannya sama tergantung oleh para penerus yang menyampaikannya.
Untuk saat ini,banyak sekali yang memperdebatkan akan masalah budaya-budaya terdahulu. Ada yang memperbolehkan dengan dalil tidak dilarang dalam ajaran islam, ada pula yang menganggapnya tidak diperbolehkan karena tidak diajarkan dalam islam. Tetapi asalkan tujuannya untuk melestarikan budaya itu sah-sah saja selama tidak meyakini jika tidak melaksanakannya akan mendatangkan malapetaka, karena itu sama saja dengan musryik. Jadi unruk daerah yang menganggap tradisi harus dijalankan agar terhindar dari malapetaka haruslah diganti niat dan tujuannya menjadi melestarikan budaya nenek moyang. Karena setiapa kejadian datangnya hanyalah dari Allah semata, bukan dari kegiatan yang dilakukan seperti apa yang dikatakan orang-orang desa yang masih percaya akan hal-hal mistis.
Bagi daerah yang masih melestarikan budaya terdahulu haruslah diacungi jempol dan harus diberi dukungan agar budaya tersebut tetap ada serta dapat dirasakan pula oleh generasi selanjutnya. Itu saja yang dapat disampaikan dalam narasi singkat ini, semoga bermanfaat, bila ada kesalahan didalamnya mohon dimaafkan, sekian dan terima kasih.

Lampiran