Minggu, 25 Maret 2018

Essay kehidupan kampus

Nama: Dwi Ambarwati
Nim: 175231114
Kelas: PBS 2C

Perubahan Penampilan Seorang Mahasiswi

Menjadi seorang mahasiswi adalah impian banyak pelajar Sekolah Menengah Atas dan sekolah lainnya yang sederajat. Hal yang membuat mereka tertarik melanjutkan studi perkuliahan salah satunya adalah factor gengsi gaya berpakaian mahasiswi yang sangat modern seperti yang ditampilkan dalam film-film ditelevisi. Dimana didalam televisi digambarkan bahwa mahasiswi itu berpenampilan modern dengan berbagai gaya pakaian dan gaya rambut. Pakaian dengan berbagai model bentuk dari yang mini bahan sampai yang menggunakan bahan yang tampak tak pantas dikenakan oleh kaum akademisi, bagaimanapun juga sebagai kaum akademisi harus mencerminkan gaya busana yang rapi. Namun begitulah model pakaian yang banyak digemari para pembuat film di dunia hiburan dan para remaja masa kini yang terpengaruh oleh gaya busana kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan budaya local Indonesia, seperti menggunakan celana jeans dengan atasan kaos oblong dibalut jaket levis, dress sepanjang lutut, hingga menggunakan rok mini ditambah dengan blazer.
Kemudian gaya rambut yang bermacam-macam bentuk dan warna. Ada yang berbentuk gelombang, kerinting gantung, lurus, hingga dibentuk gimbal. Ada yang diwarna coklat agar tampak seperti orang barat, ada pula yang diwarna-warni seperti pelangi. Ada  yang diberi warna coklat diatasnya dan bawahnya diberi warna terang seperti biru, hijau, merah, dan warna lainnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa merek atelah terpengaruhi oleh budaya asing yang bersumber dari dunia maya. Gaya asal meniru ini, sudah mewabah dikalangan remaja jaman sekarang.
Begitulah pemikiran setiap siswi yang akan menanjutkan studinya ke jenjang perkuliahann. Namun kenyataannya sangatlah berbeda. Apalagi perguruan tinggi yang mereka masuki adalah perguruan negeri yang berbasis islam seperti IAIN Surakarta. Dimana didalamnya terdapat aturan setiap mahasiswi diwajibkan mengenakan hijab dan pakaian sesuai syariat islam. Menggunakan rok kain, baju yang tidak ketat dan bukan berbahan kaos, mengenakan kaos kaki, serta jilbab yang menutupi dada.
Pakaian syari seperti ini dianggap sebagai gaya berpakaian yang tidak modern dan dapat membuat mereka dianggap sebagai orang cupu dimata teman-temannya yang kuliah di PTN. Karena model pakaian syari yang seperti itu-itu saja. Pakaian dengan rok panjang menyapu jalan, baju yang nampak kebesaran, dan jilbab besar seperti mukena. , ditambah mengenakan kaos kaki setinggi lutut.
Pakaian seperti itu banyak sekali yang tidak tertarik. Mereka menganggap jika mengenakan pakaian syari akan merasa gerah karena bahan pakaian yang tebal dan bentuknya yang menutup seluruh tubuh. Mengguanakan pakaian syari akan menghambat gerak mereka dan membuat semua tampak ribet dijalani. Bahkan mereka mengganggap pakaian syari  adalah pakaian  seorang teroris seperti yang dikatakan orang-orang awam diluar sana.
Namun karena banyaknya wanita yang mengenakan jilbab ingin berpenapilan stylish, mendoronng banyaknya designer menciptakan pakaian muslim yang modern dengan tetap mempertahankan syariat islam. Sekarang ini sudah banyak pakaian muslim dengan berbagai model yang tidak lagi itu-itu saja. Mulai dari pakaian yang sederhana hingga pakaian muslim yang glamor. Pakain syari sekarang ini sudah memiliki banyak varina bentuk yang tidak kalah menariknya dari pakaian trendy lainnya yang sangat tidak sopan bila dikenakan seorang akademisi. Hingga sekarang ini pakaian syari menjadi trend tersendiri bagi kalangan wanita.
Banyak mahasiswi baru yang tidak tahu akan peraturan berpakain pada awal perkuliahan di IAIN Surakarta dan mereka mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan kampus. Seperti tetap mengenakan celana jins dengan baju ketat dan jilbab yang transparan. Dan sesampainya mereka dikampus mereka menjadi pusat perhatian kakak tingkat mereka. Hal tersebut membuat mereka rishi dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengenakan pakaian sesuai yang dikenakan mahasiswi lainnya dikampus. Selain peraturan dari kampus, ada juga hal lain yang turut mengubah gaya berpakaian mahaswi di IAIN Surakarta, yaitu pertemanan mereka.
IAIN Surakarta adalah perguuruan tinggi berbasis islam yang banyak diminati siswi-siswi dari sekolah islam seperti Madrasah Aliyah Negeri, pondok pesantren, maupun sekolah berbasis islam dimasyarakat. Dengan demekian penampilan mahasiswi dari instalasi sekolah islam adalah model pakaian syari yang sudah sesuai dengan peraturan kampus. Bahkan ada pula yang mengenakan cadar. Pertemanan ini dapat merubah gaya berpakaian masasiswi lain yang bukan berasal dari instalasisekolah islam. Dimana mahasiswi dari instalasi umum akan menyesuaikan cara berpakaian mereka agar sesuai dengan teman-teman kampusnya. Karena jika mereka mempertahankan cara berpakaian lamanya akan nampak mencolok perbedaannya. Apalagi jika mereka bergabung dengan organisasi mahasiswa yang berbau dakwah dimana didalamnya berisikan orang-orang islami yang berpakaian syari.
Walaupun  awalnya mereka menganggap jika gaya berpakaianya syari tampak seperti tidak modern dan cenderung ndeso.  Namun dengan adanya perancang busana yang membuat pakaian syari menjadi pakaian stylish, membuat mahasiswi tidak lagi malu mengenakan pakaian syari dan malah menganggap bahwa pakaian syari adalah pakaian modern. Sehingga mahasiswi yang masuk IAIN Surakarta tidak lagi merasa kampungan jika mengenakan pakaian syari. Dengan banyaknya model pakaian syar’i yang ditawarkan membuat penampilan mahasiswi IAIN berubah yang awalnya tidak suka mengenakan pakaian syari menjadi tertarik menggunakannya.
Itulah beberapa hal yang membuat gaya berpakaian seorang mahasiswi berubah yang awalnya mengenakan pakaian yang terbuka sekarang mengenakan pakaian yang tertutup. Masih banyak hal lain yang menjadi sebab mahasiswi merubah gaya berpakaiannya. Seperti mereka memang benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi yang taat akan perintah dari Tuhan. Namun perubahan seperti itu hanyalah dialami segelintir orang saja.

Observasi pondok pesantren Budi Utomo

Assallamualaikum warahmaturahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Dwi Ambarwati dari Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah IAIN Surakarta. Didalam tulisan ini saya akan menceritakan mengenai hasil observasi saya dengan rekan kerja sama, Siti Sholikhatun di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan menceritakan mengenai perjalanan kami menuju pondok pesantren Budi Utomo, kehidupan di pondok pesantren Budi Utomo, dan tehnik pengajaran yang ada di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan menceritakan apa saja yang kami lihat dan kami dengar selama kami ada di pondok pesantren Budi Utomo. Untuk dapat tahu lebih rincinya silahkan baca ulasan berikut.

Tentang

pondok pesantren Budi Utomo meruupakan pondok pesantren LDII yang berkonsentrasi mengenai tafsir Qur’an dan hadist. Pondok pesantren Budi Utomo berdiri tahun 1993. Terletak di kampung Sekip, kelurahan Kadipuro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Di pondok pesantren Budi Utomo, terdapat tiga program pembelajaran, yaitu program reguler, pelajar dan Hadist Besar. Santri yang mondok didalamnya terdapat sekitar 280 santri dan telah memiliki lebih dari 2000 aluumni yang tersebar diberbagai cabang LDII di seluruh indonesia.

Perjalanan

Observasi lokasi kami lakukan pada hari kamis 15 Maret 2018 pukul 09.30 WIB. Awalnya kami tidak memiliki tujuan akan melakukan observasi dimana, kemudian kami mencari informasi dari internet mengenai pondok pesantren terdekat. Dari situlah kemudian kami menemukan pondok pesantren Budi Utomo. Terletak di kampung Sekip, kelurahan Kadipuro, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.
Karena lokasi pondok pesantren Budi Utomo tersebut merupakan tempat baru bagi kami, kami memutuskan untuk mencari lokasi dengan bantuan google maps. Pencarian dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan waktu pencarian lokasi dapat kami tempuh dalam durasi waktu 45 menit. Hari tersebut cuaca begitu cerah, hingga tak jarang kami mengeluh kepanasan. Banyak debu bertebaran sepanjang jalan, ditambah dengan polui dari kendaraan-kendaraan besar pengangkut barang yang lalu lalang.
Sesampainya disana kami langsung menuju pos satpam dan meminta izin untuk diantarkan ke kantor pesantren guna bernegoisasi mengenai maksud dan tujuan kami datang ke pondiik pesantren tersebut. Kami pun langsung dipertemukan dengan salah satu sesepuh di pondok pesantren Budi Utomo, beliau adalah bapak H. Muhammad Machrus. Kami diterima dengan hangat oleh pengurus pondok pesantren Budi Utomo. Pada waktu menunggu bapak Machrus, kami dijamu dengan ramah dan ditemani berbincang sebentar. Setelah bapak Machris tiba, beliau langsung memberikan senyuman hangat pada kami dan berbincang sedikit mengenai pondok pesantren Budi Utomo.
Setelah berbincang sedikit, kami kemudian menyampaikan maksud dan tujuan kami datang ke pondok pesantren Budi Utomo, yaitu untuk mengetahui kehidupan pondok selama 24 jam. Maka dari itu kami meminta izin kepada bapak untuk diperbolehkan menginap dan mencatat setiap apa yang dilakukan santri di pondok pesantren Budi Utomo. Kami akan mulai menginap pada hari jum’at 16 Maret 2018 sekitar ba’da Ashar. Tanggapan dari bapak Machrus begitu ramah, bahkan beliau langsung mencarikan kami pendamping dalam melakukan observari pondok pesantren Budi Utomo.
Kami pun berbincang-bincang sebentar mengenai apa yang akan kami lakukan selama kami menginap di pondok pesantren Budi Utomo. Dari situ pendamping kami menanggapinya dengan baik dan ramah. Kami pun diajak untuk berkeliling sebentar di asrama putrinya. Disitu kami ditunjukkan tentang fungsi dari beberapa kelas, ruangan, dan setiap kamarnya. Kami diajak untuk melihat pondok pesantren Budi Utomo dari atas. Dari situ kami dapat melihat setiap aktivitas santri dengan jelas.
Setelah selesai berkeliling asrama, kami memutuskan untuk kembali ke Kartasura. Sebelum kami berpamitan pulang, kami melakukan dokumentasi dengan pendamping kita nanti. Kami pun berpamitan pulang pada pukul 11.00 WIB.
Kami pulang masih mengunakan bantuan google maps, karena kami lupa jalan yang kami tempuh tadi. Perjalanan pulang kami menggunakan rute yang berbeda dengan jalan kami berangkat tadi. Kami menggunakan jalan yang lebih dekat dibanding jalan berangkat.

Awal

Kami melakukan perisiapan untuk observasi yang akan kami lakukan di pondok pesantren Budi Utomo. Namun pada saat kami akan berangkat menuju pondok pesantren Budi Utomo, hujan turun dan memaksa kami untuk menunda perjalanan kami. Hujan reda sekitar pukul 17.00 WIB. Kami berunding sejenak dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ba’da maghrib. Setelah kami menunaikan sholat maghrib, kami bergegas berangkat menuju pondok pesantren Budi Utomo. Kami masih menggunakan bantuan google maps dan jalan yang kami ambil pun berbeda pula dengan jalan yang kami gunakan hari kamis, baik waktu berangkat mauoun pulang.
Ditengah perjalanan kami mampir sebentar untuk membeli sesuatu. Pada saat ami membeli keperluan kami, bertepatan dengan waktu sholat Isya’. Kami pun memutuskan untuk menunaikan sholat Isya’ di masjid dekat tempat kami membeli keperluan. Setelah itu kami segera bergegas melanjutkan perjalanan ke pondok pesantren Budi Utomo.
Diperjalanan kami sedikit terhambat oleh kemacetan. Banyak sekali keendaraan berat yang sedang beriprasi pada waktu itu. Hingga kami pun harus pandai-pandai memilih jalan agar terhindar dari kemacetan. Kami pun sampai di pondok pesantren Budi Utomo pukul 20.15 WIB.
Sesampainya kami disana, kami langsung menemui petugas jaga untuk mencarikan pendamping kami kemarin. Namun pendamping yang kami maksud sedang ada kelas yang tidak boleh ditinggalkan. Kami pun ditunjukan pendamping baru dan itu adalah bunda asrama putri sendiri. Beliau adalah bunda Titin, dia juga merupakan alumni dari pondok pesantren Budi Utomo yang diminta untuk megajar santri di pondok pesantren Budi Utomo.
Karena kami tiba pada waktu malam hari, kegiatan harian para santri pondok pesantren Budi Utomo sudah dimulai sejak ba’da Maghrib. Kami pun berbincang seputar pondok pesantren Budi Utomo dengan pendamping baru kami, bunda Titin, dan salah satu guru  pondok pesantren Budi Utomo. Kami berbincang mengenai kurikulum yang dipakai di pondok pesantren Budi Utomo, jumlah santri yang sedang belajar di podok tersebut dan sedikit sejarah pondok pesantren Budi Utomo. Setelah itu kami melihat sebentar mengenai kegiatan santri diwaktu malam. Kemudian kami diantarkan kekamar yang akan kami tempati untuk menginap. Tempatnya begitu bersih dan rapi. Didalamnyaa terdapat kipas angin dimana jika merasa kepasan dapat menggunakannya. Sebelum kami menuju kamar, kami melihat-lihat sebentar tempat makan para santri putri. Barulah kami pergi untuk istirahat dikamar yang disediakan.
Kami  mulai menginap pada malam itu juga. Kesokan harinya kami mulai melihat-lihat semua kegiatan yang ada di pondok pesantren Budi Utomo mulai pertama kali bangun tidur hingga mereka tidur lagi. Kami memasuki setiap kelas-kelas yang ada, mulai kelas pegon, cepatan, lambatan, hadist besar, dan tafsir baik dalam bahasa jawa maupun yang berbahasa jawa. Kami mengikuti kegiatannya hingga ba’da maghrib. Selepas ba’da Maghrib, kami lagsung berpamitan pulang karena kami takut kemalanman sampai di Kartasuranya.
Perjalanan pulang kami masih menggunakan google maps, mengingat jika kami tidak tahu arah jalan di kota solo ini. Walaupuun sudah menggunakan google maps dan kami sudah beberapa kali melakukan perjalanan ini, kami masih mengalami salah jalan. Mengingat jika kami pulang pada waktu malam hari, dimana semua tampak berbeda dari kedaan siang harinya. Kami pun harus putar balik arah menuju jalan yang benar. Akhirnya kami sampai di Kartasura pada pukul 20.00 WIB. Dan sebelum kami kembali ke ks kami maing-masing, kami mampir sebentar diruamah makan guna mengganti energi kami karena kami tidak ikut makan dipondok waktu siang dan sore harinya.

Kehidupan pondok

Agenda pertama para santri dimulai pada pukul 03.00 WIB dini hari. Mereka dibangunkan untuk melaksanakan sholat malam atau sholat tahajud. Sebelum melaksanakan sholat malam, mereka melakukan apel pagi terlebih dahulu. Apel paginya berupa pemberian motivasi mengenai manfaat sholat malam. Srtelah apel barulah mereka melaksanakan sholat malam berjamaah di masjid.
Setelah melaksanakan sholat malam, mereka dibebaskan untuk melakukan aktivitas lain hingga subuh. Pada waktu ini, ada yang mengisi waktu dengan tilawah, mencuci baju, menyeterika, mandi, bahkan ada yang memilih untuk tidur lagi. Ada pula yang diberi amanah untuk menjaga kebersihan melakukan piket bersama-sama. Karena setelah sholat shubuh, tempat belajara mulai digunakan kembali.ada yang membersihkan kelas, kamar mandi, hingga halaman pondok.
Menjelang subuh, ada yang bertugas membangunkan kembali sanrei yang tidur untuk segera ber wudhu dan menuju ke masjid untuk melakasanakan sholar subuh. Sambil menunggu sholat subuh dimulai, sebagian dari santri pondok pesantren Budi Utomo melakukan tilawatil qur’an. Ada yang sedang belajar menghafal maupun duduk berdzikir. Kemudian mereka melakukan sholat subuh jamaah dengan khusyuknya.
Kemudian setelah sholat subuh, agenda pagi pun dimulai. Agendanya dibagi menjadi beberapa kelas sesuai tingkatan masing-masing. Ada yang kelas bacaan atau kelas dasar, kelas pegon, kelas lambatan, dan kelas saringan. Pada waktu ba’da shubuh, kami melihat-lihat kelas cepatan. Kelas tersebut berada didalam masjid dengan santri putra dan putri dipisahkan oleh tirai. Kelas capatan adalah kelas terakhir sebelum mereka disaring dan dikirim kebeberapa daerah untuk menyabarkan ajarannya.
Kegiatan selesai pada pukul 06.00 WIB. Kemudian para santri yang sedang menjadi pelajar bersiap untuk sekolah. sedang yang tidak sedang menjadi pelajar, merek melakukan kegiatan pribadi. Mulai dari mandi, hafalan, tilawah, dan lain sebagainya. Selanjutnya ada sarapan pagi pada pukul 07.00 WIB. Sarapan disediakan oleh dapur pondok dimana ada penanggungjawab dapur dibantu oleh santri putri yang bertugas untuk memasak makanan yang akan disajikan.
Kegiatan dimulai lagi pada pukul 08.15 WIB setelah sholat sunnah dhuha. Setelah sholat dhuha, mereka langsung menuju kelas mereka masing-masing sesuai dengan tingkatan mereka. Pada waktu itu, kami tertarik untuk melihat kelas pegon. Disana, sebelum guru datang, mereka membaca bacaan sholat satu rakaat. Kemudian dilanjut dengan tilawah yang dibaca salah satu santri putra dan dilanjutkan oleh salah satu santri putri. Setelah guru datang, mereka kemudian duduk rapi dan mulai belajar. Pelajaran yang diajarkan pada waktu itu adalah mengenai tajwid. Guru datang dan langsung menuliskan salah satu ayat al-Qur’an dan meminta santrinya untuk menganalisis ada berapa tajwid yang digunkan dalam bacaan tersebut.
Kemudian kami beranjak ke kelas cepatan. Kelas cepatan berada didalam masjid Baitul A’laa. Disana antara santri putri dengan santri putra dibatasi oleh pembatas yang terbuat dati kayu triplek dan guru yang mengajar berada ditengah-tengah pembatas. Para santri tidak belajar dalam keadaan duduk seperti pada pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, tetapi mereka duduk dibawah dengan bermejakan bangku kecil dari bahan plastik. Cara duduknya pun tidak rapi seperti di sekolahan, melainkan duduk senyaman para santri yang belajar.
Selanjutnya kami melihat-lihat kelas berikutnya, yaitu kelas bacaan. Kelas bacaan merupakan kelas dasar yang harus dikuasai santri sebelum melanjutkan jenjang berikutnya. Kelas bacaan berada dilantai dua masjid Baitul A’laa. Pada waktu itu bertepatan dengan jadwal setoran hasil belajar para santri. Setorannya dilakukan dengan satu per satu santri membaca al-Qur’an dan setelah membacanya, santri diminta untuk menunjukkan tajwid-tajwid yang ada dalam bacaaan tersebut.
 Selepas dari kelas bacaan, kami kemudian melanjutkan untuk melihat kelas hadist besar. Kelas yang diperuntukan untuk santri yang telah melakukan pengabdian dimasyarakat. Dikelas ini diajarkan tantang tafsir hadist-hadist besar seperti hadist imam Bukhori, imam Hambali, Imam syafi’i, dan hadist besar lainnya.
Selesai dari kelas hadist besar, kami kemudian menujju asrama putri untuk istirahat, bersamaan dengan berhentinya semua kegiatan pesantren menjelang waktu sholat dzuhur. Semua santri kemudian menuju ke masjid Baitul A’laa untuuk melakukan sholat dzuhur berjamaah. Setelah sholat, semua santri menuju tempat makan untuk makan siang, mengisi tenaga untuk melaksanakan kegiatan selanjutya.
Kegiatan dilanjut lagi pada pukul 13.00WIB. Diwaktu ini kami memilih untuk melihat kelas tafsir hadist yang disampaikan dalam bahasa jawa. Lokasinya berada di lantai dua gedung utama. Disana penyampaian hadistnya disampaikan dalam bahasa jawa campuran, terkadang menggunakan ngoko alus, kromo ngoko, bahkan juga terkadang menggunakan ngoko biasa. Kami mengikuti kelas ini hinngga selesai pada pukul 15.30 WIB, tepat sebelum adzan Ashar berkumandang. Kelas kemudian selesai dan para santri berkumpul kembali di masjid Baitul A’laa untuk melaksanakan ibadah sholat Ashar.
Setelah sholat Ashar, seharusnya para santri ada kegiatan olahraga. Namun berhubung ba’da Ashar hujan, kegiatan olahraga tersebut tidak dapat dilaksanakan. Kegiatan pun diganti dengan kajian didalam Masjid. Kemudian para santri kembali ke asrama mereka masing-msing untuk melakukan kegiatan pribadi dan persiapan makan malam dan sholat Maghhrib. Kegiatan belajar mengajar akan dimulai lagi setelah seluruh santri melaksanakan sholat Isya’ dan akan berakhir pada pukul 22.00 WIB.

Tehnik pengajaran

Awal kali santri belajar di pondok pesantren Budi Utomo, mereka akan diajari mengenai bagaimana cara membaca al-Qur’an yang baik dan benar. Mereka akan diajari hingga santri tersebut dapat membaca lancar dan benar tajwidnya. Setelah mereka dapat membaca dengan baik dan benar, barulah mereka akan dinnaikan tingkatan tanpa terikat waktu. Karena yang menjadi patokan kenaikan tingkat dim pondok pesantren Budi Utomo bukanlah waktu lamanya para santri belajar, melainkan seberapa bisa santri tersebut memahani setiap apa yang diajarkan.
Setelah lolos dalam tingkatan awal, para santri akan diarahkan untuk dapat menulis makna dalam bentuk arab atau biasa disebut dengan pegon.mereka akan beajar hingga mereka bisa menulis pegon dengan cepat, baik, dan benar.
Setelah para santri menguasai pegon, mereka akan memasuki tahapan kelas tafsir. Penyampaian ini dilakukan dalam dua bahasa, ada yang bahasa indonesia dan bahasa jawa. Dalam penyampaian tafsir yang diajarka di pondok pesantren Budi Utomo, mereka menggunakan metode penurunan materi. Yaitu santri akan diberikan materi mengenai tafsir dari guru secara utuh dan santri tidak diperkenankan untuk menambah maupun mengurangi dari mareritersebut. Tafsir tersebut diperoleh dari guru besar mereka yang pernah belajar di arab dan paham akan bahasa arab itu sendiri. Kemudian guru besar tersebut menerjemahkan isi al-Quran dalam bahasa indonesia maupun dalam bahasa jawa. Dari situ beliau menularkan isi al-Quran dalam bahasa indonesia maupun bahasa jawa dan berpesan agar isi dari ajaran tersebut tidak ditambah maupun dikurangi sedikit pun.
Penyampaian materi disampaikan dengan menerjemahkan kata per kata isi al-Qur’an dan para santri menulisnya dalam bentuk pegon dalam buku mereka masing-masing. Kemudian setelah menyelesaikan satu ayat, akan diceritakan mengenai tafsiran dari ayat tersebut. Para santri pun akan mencatat tafsiran tersebut di kolom buku cacatan ang telah disediakan.
Setelah mereka menghatamkan tafsir al-Quran 30 juz dan hadist secara umum, mereka akan memasuki kelas berikutya, yaitu kelas lambatan  dan selanjutnya kelas cepatan. Barulah mereka akan melakukan penyaringan untuk seleksi di pusat pondok LDII dan mereka akan menjalani pengabdian dimasyarakat selama beberapa tahun.
Sepulang dari pengabdian dimasyarakat, mereka dapat melanjutkan studi lagi di Hadist Besar. Tingkatan yang leih tinggi lagi dimana santri akan belajar mengenai hadist-hadist besar yang ada. Dan seteah ereka lulus dari kelas Hadist Besar, mereka dapat mendaftarkan diri menjadi guru pondok maupun langsung terjun di dunia masyarakat luas untuk mengajarkan ajaran yang telah mereka terima.

Penutupan

Dari observasu yang kami lakukan, dapat kamu simpulkan kelabihan dan kekurangan dari pondok pesantren Budi Utomo. Kelebihan dan keunikan di  pondok pesantren Budi Utomo ini terletak pada bahasa yang digunakan dalam penyampaian tafsirnya. Dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa dan bahasa Indonesia. Mereka beranggapan bahwa jika kita harur belajar bahasa Arab terlebih dahulu, waktu penyampaian materi hanya akan habis dalam pengajaran bahasa Arab, karena belajar bahasa Arab tidak dapat hanya ditemuh dalam setahun saja, butuh waktu lebih untuk menguasainya. Kemudian larangan unruk menambah maupun mengurangi hasil tafsir Qur’an dan hadist tersebut. Hal tersebut jika dipandang sisi positiv sangatlah penting guna menjaga agar pemahaman satu engan yang lain dapat diserasikan dan tidak ada pemahaman yang bertentangan.
Kemudian kekurangan pondok pesantren Budi Utomo pondok pesantren ini adalah pengajarannya yang hanya mengenai tafsir Qur’an dan hadist saja. Untuk penyampaian pembelajaran lainnya hanya disampaikan beberapa kali saja dalam sepekan. Seperti kadang diwaktu kultum ba’da sholat Maghrib dan di malam Jum’at saja. Agenda hiburan lainnya juga kurang ditekankan dan kegiatan sehari-harinya hanya monoton itu-itu saja tidak berubah.
Mungkin ini saja hasil observasi yang dapat kami tangkap dengan baik mengenai pondok pesantren Budi Utomo, kurang lebihnya mohon maaf, akhir kata, wassallamu’alaikum warahmaturahi wabarakatuh.